Sarwo • Nov 29 2025 • 69 Dilihat

Pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Keyakinan ini didasari oleh prinsip bahwa kemajuan dan kemerdekaan sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikannya.
Dalam puncak peringatan Hari Guru Nasional 2025 yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, Jumat (28/11), Presiden menyoroti pentingnya ketepatan distribusi anggaran.
“Anggaran pendidikan yang besar dan dibutuhkan untuk kualitas pendidikan yang terbaik harus dipastikan sampai benar-benar pada para guru, para siswa, dan sekolah-sekolah, sarana, gedung-gedung, dan buku-buku,” tegas Presiden.
Sebagai langkah konkret, Presiden mencontohkan program revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran, salah satunya melalui pengiriman layar interaktif ke seluruh sekolah. “Dipastikan setiap sekolah, setiap ruang kelas, tidak boleh ada satu desa pun yang tertinggal,” ujarnya.
Di hadapan sekitar 9.000 guru yang hadir, Presiden menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang mendalam atas dedikasi para pendidik.
“Karena itu, Hari Guru Nasional ini, kesempatan sekali lagi saya ucapkan penghargaan terima kasih saya, atas nama bangsa dan rakyat Indonesia, terima kasih saya kepada semua guru yang ada di Indonesia, guru adalah tonggak yang paling penting dalam pembangunan bangsa ini,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden secara langsung menyerahkan Anugerah Guru Indonesia 2025 kepada tiga sosok pendidik inspiratif yang dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa.
Penerima pertama adalah Syifa Urrachmah, guru SLB Negeri Banda Aceh, Provinsi Aceh. Syifa merancang program “Komputer Bicara” (Kombira) untuk membantu siswa tunanetra. Inovasi ini mengubah keraguan siswa menjadi kemandirian digital melalui integrasi perangkat lunak pembaca layar. Untuk memudahkan penggunaan, Syifa bekerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dalam menyusun modul panduan berbasis braille.
Penghargaan kedua diberikan kepada Umi Salamah, pendiri dan pengajar PKBM Tunas di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Umi mendedikasikan rumah pribadinya sebagai tempat belajar bagi masyarakat yang tidak menempuh pendidikan formal, mengajarkan mereka membaca dari nol.
“Saya sangat bahagia mengajar untuk murid buta aksara; mengenalkan mereka huruf per huruf, menggandeng huruf hingga menjadi sebuah kata dan kalimat. Penghargaan ini menjadi pengalaman berharga dan bukti nyata dukungan pemerintah bagi kami pejuang pendidikan. Terima kasih kepada seluruh rekan seperjuangan di PKBM yang selalu ada dan selalu mensukseskan kegiatan yang ada,” tutur Umi penuh haru.
Penerima ketiga adalah Koko Triantoro, Kepala SD Negeri Embacang Lama, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan. Selama satu dekade, Koko mengabdi di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ia sukses menjalankan program Zero Litteracy untuk memberantas buta huruf menggunakan teknik grading dan modul khusus. Program ini telah mendapat dukungan dari Balai Bahasa Provinsi dan pemerintah daerah setempat untuk diterapkan lebih luas.
Sumber: puslapdik.kemendikdasmen
Penulis: Sarwo
Jumlah pengunjung : 16 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa guru sekolah dasar...
Jumlah pengunjung : 18 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengungkapkan bahwa jumla...
Jumlah pengunjung : 21 Yogyakarta ~ Sejumlah orang tua korban dugaan kekerasan dan penelantaran di D...
Jumlah pengunjung : 65 Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan bahwa...
Jumlah pengunjung : 14 Menteri Sosial menegaskan bahwa pelaksanaan proyek sekolah rakyat harus dilak...
Jumlah pengunjung : 35 Minat terhadap program beasiswa Indonesia mengalami peningkatan yang signifik...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.