Gutama • Aug 05 2025 • 195 Dilihat

Warta Pendidikan Jogja – Tumbuh di Dusun Tegalweru, Kemalang, Klaten — tepat di kaki Gunung Merapi — Devita Febrianisa dibesarkan dalam keluarga sederhana. Sang ayah bekerja sebagai sopir truk pengangkut pasir, sementara ibunya menjahit dari rumah hanya dengan pendidikan hingga bangku SD. Kondisi ini justru menjadi pemantik semangat Devita untuk berjuang melalui pendidikan demi masa depan yang lebih baik.
Tak lama kemudian, Devita resmi diterima sebagai mahasiswi Program Studi Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Ia lolos melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) dan memperoleh subsidi UKT penuh (100%) — sebuah pencapaian besar yang menjadikannya mampu kuliah tanpa biaya kuliah selama masa studi.
Sebelum tiba di Bulaksumur, Devita pernah mengalami beberapa kali penolakan dari berbagai universitas. Namun, kegagalan itu tidak mematahkan semangatnya. Ia giat berkegiatan di MAN 2 Sleman, aktif dalam riset dan organisasi rohis selama dua periode, sekaligus menorehkan prestasi gemilang baik di tingkat nasional maupun internasional:
Devita menyampaikan bahwa kegagalan tak selalu berakhir buruk—ia menjadikan setiap kekalahan sebagai pelajaran dan bahan pertumbuhan. Ketika rasa lelah datang, ia mengingat bahwa ia adalah anak tunggal, dan merasa perlu membanggakan orang tua yang selalu memberi doa dan semangat tak pernah putus. “Kalau saya mau nyerah, saya selalu ingat … ada orang yang ingin saya selalu berhasil … demi masa depan saya sendiri,” katanya sambil terharu.
Orang tua Devita—Surati dan Rejono—merasa bangga sekaligus emosional menyaksikan sang anak diterima di UGM. Dengan latar pendidikan yang terbatas dan penghasilan yang pas-pasan, mereka hanya bisa memberikan doa dan dukungan selama ini. “Kami hanya lulusan SD, tapi anak kami bisa kuliah di UGM. Kami tidak pernah membayangkan sebelumnya,” kata Rejono, penuh haru. Begitu pula Surati menerangkan bahwa mereka berharap Devita dapat mengejar kehidupan yang lebih baik dari mereka.
Ketika akhirnya Devita resmi mahasiswa di Bulaksumur, mereka bertiga saling berpelukan dalam keheningan penuh makna — ungkapan syukur atas peluang yang diberikan UGM yang kini menjadi bagian dari kisah hidup mereka.
UGM sendiri aktif membuka akses pendidikan bagi anak bangsa dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk melalui subsidi UKT penuh bagi pelajar berprestasi seperti Devita. Melalui jalur PBUB, UGM menunjukkan komitmennya terhadap pemerataan kesempatan belajar, membuka peluang meski berasal dari latar belakang ekonomi minim.
Kisah Devita Febrianisa bukan sekadar tentang anak dari keluarga sederhana yang berhasil kuliah di kampus bergengsi, melainkan representasi nyata bahwa ketekunan, prestasi, dan semangat pantang menyerah bisa membuka pintu kesempatan. Dari dusun kecil di lereng Merapi hingga menapaki generasi baru di Bulaksumur, Devita menunjukkan bahwa mimpi besar bisa diwujudkan bila dikejar dengan sepenuh hati.
Author: Aizan
Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/dari-lereng-merapi-ke-bulaksumur-perjalanan-devita-meraih-mimpi-lewat-prestasi/
Jumlah pengunjung : 63 Minat terhadap program beasiswa Indonesia mengalami peningkatan yang signifik...
Jumlah pengunjung : 73 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan program beasiswa sarjana...
Jumlah pengunjung : 72 Kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri kembali terbuka melalui prog...
Jumlah pengunjung : 113 Kabar gembira bagi keluarga mitra pengemudi, Yayasan GoTo Merah Putih (YGMP)...
Jumlah pengunjung : 107 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di bawah naungan Kementerian Pendidika...
Jumlah pengunjung : 110 Data World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.