Categories
  • Beasiswa S1
  • Beasiswa S2
  • Beasiswa S3
  • Berita Provinsi
  • Berita Pusat
  • Event Edu
  • Info Beasiswa
  • Info Pendidikan
  • LLDIKTIV
  • Pameran DIY
  • Pengabmas
  • Prestasi PT
  • Rubrik Ilmiah
  • Seminar PT DIY
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Wisata edu
  • Workshop DIY
  • Prabowo Akan Terapkan Pembelajaran Matematika Sejak TK, Atasi Minimnya Kemampuan Berhitung Pelajar

    Jan 13 2025237 Dilihat

    Kemampuan berhitung pelajar Indonesia

    Warta Pendidikan Jogja – Pemerintahan Prabowo Subianto berencana meningkatkan metode pembelajaran matematika. Fokus utama ada di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Rencana ini muncul setelah viralnya berbagai unggahan yang menunjukkan lemahnya kemampuan berhitung pelajar Indonesia.

    Di media sosial, beberapa video memperlihatkan siswa sekolah menengah kesulitan menjawab soal dasar. Misalnya, seorang siswi Pramuka yang tidak bisa menjawab 6×5. Bahkan, saat ditanya hasil 6+10, ia menjawab 60. Seharusnya, jawabannya adalah 16.

    Lebih jauh, hasil asesmen internasional juga memperlihatkan kondisi serupa. Pada 2022, skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia untuk matematika hanya 366 poin. Skor ini lebih rendah dibandingkan hasil pada 2015 dan 2018. Di ASEAN, Indonesia berada di peringkat keenam dari delapan negara, hanya unggul dari Filipina dan Kamboja.

    Melihat kondisi ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru dilantik pada 21 Oktober 2025, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto ingin memperbaiki metode pembelajaran matematika sejak dini.

    “Presiden ingin pelajaran matematika lebih diperkuat di SD, terutama kelas 1 hingga 4. Bahkan, beliau mengusulkan agar matematika mulai diperkenalkan sejak TK,” kata Abdul Mu’ti di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (22/10).

    Rendahnya Kemampuan Berhitung Pelajar, Apa Penyebabnya?

    Minimnya kemampuan matematika juga dirasakan langsung oleh Anas Baihaqi, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia Tengah. Ia terkejut saat mendapati empat siswa SMK yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di kantornya mengalami kesulitan berhitung.

    “Saat saya uji dengan soal sederhana, mereka masih salah. Saya tanya berapa 6+8, mereka jawab 12. Ketika saya tanyakan nilai rata-rata dari 6 dan 8, mereka bilang tidak tahu,” tulisnya dalam unggahan Facebook pada Senin (30/9).

    Lebih mengejutkan lagi, para siswa tersebut bahkan kesulitan membaca angka lebih dari tiga digit. Sebelum bisa mengajarkan penggunaan Microsoft Excel, Anas harus kembali mengajarkan matematika dasar tingkat SD.

    Unggahannya pun viral. Banyak warganet mengaku mengalami kejadian serupa.

    Fenomena Nasional, Bukan Kasus Terisolasi

    Putri, seorang kepala SD di Kota Bandung, juga mengakui hal serupa. Menurutnya, banyak siswa masih kesulitan memahami konsep perkalian dan pembagian.

    “Mereka bisa mengerjakan soal, tetapi butuh waktu lama. Konsepnya belum benar-benar mereka pahami,” jelasnya.

    Namun, dibandingkan membaca, kemampuan berhitung siswa di sekolahnya masih lebih baik. Saat ia mulai bertugas pada 2022, sekitar 40 dari 540 siswa belum bisa membaca. Kini, jumlahnya berkurang menjadi 17 siswa, yang duduk di kelas 4, 5, dan 6.

    Ketua Dewan Pakar Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, menambahkan bahwa fenomena ini telah lama terjadi. Bahkan, di beberapa wilayah Indonesia Timur, situasinya lebih parah.

    “Di Papua, banyak siswa SMA yang belum bisa membaca dengan lancar. Saat mereka SD, mereka sudah mengalami kesulitan. Ditambah lagi, kondisi geografis membuat pembelajaran semakin sulit,” jelasnya dalam wawancara telepon, Kamis (17/10).

    Dengan berbagai tantangan yang ada, penerapan metode pembelajaran matematika sejak usia dini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang. Harapannya, siswa Indonesia lebih siap menghadapi tantangan akademik di masa depan.

    Penulis: Aizan Syalim

    Sumber Gambar: https://ichef.bbci.co.uk/ace/ws/800/cpsprodpb/65fd/live/185c0a90-916e-11ef-995d-c3b470c11f78.jpg.webp

    Sumber Berita: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cly0gxyjzzeo

    Share to

    Related News

    Pembelajaran di sekolah rakyat dinilai semakin stabil setelah berbagai tantangan berhasil diatasi secara bertahap.

    Lulusan Sekolah Rakyat Tak Boleh Mengang...

    by Sep 11 2026

    Jumlah pengunjung : 53 Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan pemerintah menyiapkan dua jalur bag...

    Guru PPPK mengajar di ruang kelas saat DPR mengusulkan kenaikan gaji minimal Rp7 juta per bulan bagi guru PPPK penuh waktu sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.

    Guru di Sleman Diajak Refleksikan Pembel...

    by Sep 10 2026

    Jumlah pengunjung : 65 Yayasan Dinamika Edukasi Dasar kembali menggelar Jelajah Edukasi Dasar untuk ...

    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan orasi ilmiah dalam Wisuda Perbanas Institute Tahun 2026 dan memberikan pesan kepada lulusan untuk adaptif terhadap perkembangan AI serta tetap menjaga integritas.

    Lulusan Perguruan Tinggi Dituntut Adapti...

    by Sep 08 2026

    Jumlah pengunjung : 83 Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yulia...

    Siswa sekolah dasar mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris di kelas sebagai bagian dari persiapan kebijakan mata pelajaran wajib yang akan diterapkan secara nasional mulai 2027.

    Penggunaan Smartphone dan AI Dinilai Pen...

    by Sep 08 2026

    Jumlah pengunjung : 42 Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mulai memengaruhi pola inte...

    Kemendikdasmen Atur Pembelajaran Sekolah Terdampak Karhutla Berdasarkan ISPU

    Kemendikdasmen Atur Pembelajaran Sekolah...

    by Sep 07 2026

    Jumlah pengunjung : 40 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan layanan...

    Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Sekolah, Mendikdasmen Atur PJJ dan Protokol Kesehatan

    Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Sekola...

    by Sep 07 2026

    Jumlah pengunjung : 35 Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengin...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
    back to top