Fajar A • Aug 21 2026 • 7 Dilihat

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) untuk perguruan tinggi di Auditorium Pusat Kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (20/8/2026). Program tersebut dirancang untuk mendekatkan pendidikan tinggi dengan kehidupan masyarakat sekaligus menjadikan nilai budaya sebagai bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam sambutannya, Sri Sultan menggambarkan kehidupan mahasiswa yang setiap hari beraktivitas di sekitar kampus, mulai dari melewati permukiman warga, pasar, hingga sanggar seni. Berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat sebenarnya berada sangat dekat dengan lingkungan perguruan tinggi.
Namun, kedekatan secara geografis belum tentu membuat ilmu yang dipelajari mahasiswa berinteraksi secara langsung dengan persoalan masyarakat. Karena itu, PKJ diharapkan dapat memperpendek jarak antara ruang akademik dengan kehidupan sosial di sekitarnya.
“PKJ yang hari ini kita luncurkan bersama, adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu. Bukan dengan menambah mata kuliah sebagai formalitas, melainkan dengan mengajak ilmu pengetahuan untuk pulang, singgah dahulu pada nilai, sebelum ia bekerja di dunia,” ujar Sultan.
Sri Sultan menegaskan bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan tidak dimaksudkan sebagai mata kuliah tambahan yang sekadar dimasukkan ke dalam kurikulum perguruan tinggi.
PKJ diharapkan menjadi cara pandang dalam memahami sekaligus menerapkan ilmu pengetahuan. Menurut Sultan, pendidikan perlu menjawab dua hal, yakni bagaimana sesuatu bekerja dan untuk apa ilmu tersebut digunakan.
Pertanyaan mengenai “bagaimana” berkaitan dengan kemampuan ilmu dalam menjelaskan suatu persoalan. Sementara itu, pertanyaan mengenai “untuk apa” menyangkut manfaat ilmu tersebut bagi manusia dan kehidupan masyarakat.
Sultan menilai filosofi Yogyakarta seperti Hamemayu Hayuning Bawana dapat menjadi pijakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Nilai tersebut menekankan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.
“Harmoni antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Ilmu yang hebat namun merusak harmoni ini, betapapun canggihnya, telah kehilangan arahnya,” jelasnya.
Sultan juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur berdasarkan banyaknya mata kuliah, seminar, maupun aktivitas akademik yang diselenggarakan perguruan tinggi.
Menurutnya, pendidikan perlu dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan. Perguruan tinggi perlu memastikan ilmu yang dikembangkan mampu membuat manusia lebih merdeka, mengurangi penderitaan, serta membuka kesempatan bagi masyarakat yang selama ini berada di kelompok marginal.
Karena itu, PKJ diharapkan berkembang menjadi gerakan ilmu yang memiliki jiwa budaya. Kebudayaan menjadi sumber nilai, ilmu pengetahuan menjadi sarana untuk memuliakan kehidupan, sedangkan kesejahteraan manusia menjadi tujuan akhirnya.
“Sebab ilmu yang tidak pernah pulang kepada nilai, cepat atau lambat, akan kehilangan arah untuk apa ia bekerja,” lanjut Sultan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengapresiasi Pemerintah Daerah DIY, LLDIKTI Wilayah V, Dewan Pendidikan DIY, UNY, serta berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan PKJ untuk perguruan tinggi.
Brian menilai Yogyakarta memiliki posisi penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Banyak pemikir, ilmuwan, pemimpin, dan generasi muda lahir dari lingkungan pendidikan di Yogyakarta dan kemudian memberikan kontribusi bagi bangsa.
Menurutnya, nilai-nilai yang hidup di masyarakat Yogyakarta juga memiliki relevansi dalam pengembangan pendidikan tinggi. Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta semangat golong gilig dinilai mengandung nilai harmoni, keteguhan, tanggung jawab, dan kebersamaan.
“Keistimewaan Yogyakarta juga tumbuh dari nilai-nilai luhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Filosofi seperti Hamemayu Hayuning Bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta semangat golong gilig mengandung pesan tentang harmoni, keteguhan, tanggung jawab, dan kebersamaan,” ujarnya.
Melalui peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan, perguruan tinggi diharapkan semakin mampu mempertemukan ilmu pengetahuan, budaya, dan kebutuhan masyarakat. Program tersebut juga menjadi upaya menjadikan pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan berkompeten, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan nilai-nilai kehidupan.
Sumber: HarianJogja
Jumlah pengunjung : 11 Sebanyak 97 dari sekitar 380 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Daerah...
Jumlah pengunjung : 109 YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta bersama DPRD Kota Yogyakarta m...
Jumlah pengunjung : 84 YOGYAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi digital, buku tetap menjadi ...
Jumlah pengunjung : 90 YOGYAKARTA – Universitas Alma Ata secara resmi melepas mahasiswa peserta Ku...
Jumlah pengunjung : 111 YOGYAKARTA – DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan komitmennya ...
Jumlah pengunjung : 134 SLEMAN – Bupati Sleman Harda Kiswaya menanggapi santai wacana kenaikan gaj...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.