Fajar A • Sep 08 2026 • 9 Dilihat

Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mulai memengaruhi pola interaksi anak di lingkungan sekolah. Guru SD sekaligus Co-Founder Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, menyoroti semakin banyaknya anak yang mengalami socially awkward atau merasa canggung ketika berinteraksi dengan orang lain. Fenomena tersebut dibahas dalam acara IdeaFest 2026 di Jakarta, Jumat (4/9/2026), di tengah semakin luasnya penggunaan smartphone dan teknologi AI oleh anak-anak.
Galih mengatakan perkembangan teknologi dan AI merupakan bagian dari perubahan zaman yang sulit dihindari. Namun, semakin luasnya penggunaan smartphone juga dapat membuat anak lebih banyak berinteraksi dengan perangkat digital dibandingkan dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Socially awkward dapat terlihat dari kesulitan anak memulai percakapan, membangun hubungan, maupun menyesuaikan diri ketika berada dalam situasi sosial. Menurut Galih, kondisi tersebut juga mulai terlihat pada sejumlah murid yang ditemuinya di sekolah.
“Berbicara tentang perkembangan tekonologi dan socially awkward, murid-murid saya juga banyak yang mengalami hal tersebut,” katanya.
Meski demikian, perkembangan teknologi tidak semestinya menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan. Rumah dan sekolah justru memiliki peran penting dalam membantu anak memahami teknologi sekaligus membangun kemampuan berinteraksi dengan orang lain.
Di tengah penggunaan teknologi yang semakin intensif, hubungan dan komunikasi antarmanusia tetap dinilai penting bagi perkembangan anak. Galih menilai kemampuan berempati dan peduli terhadap orang lain perlu dibentuk melalui lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah.
Karena itu, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru. Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak juga perlu menciptakan ruang yang mendorong anak untuk berkomunikasi, bekerja sama, serta memahami perasaan orang lain.
“Kita sering mendengar bahwa dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Bahkan mungkin dibutuhkan satu negara atau satu dunia untuk kita bergandengan tangan mengatasi ini,” imbuhnya.
Galih juga mendorong agar percakapan dan diskusi langsung tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Interaksi tersebut bukan hanya membantu penyampaian materi, tetapi juga membangun kedekatan antara guru dan siswa.
Menurutnya, AI memang dapat membantu merangkum atau menyintesis hasil percakapan. Namun, teknologi tersebut belum dapat menggantikan berbagai hal yang lahir dari pertemuan langsung, seperti kepercayaan, kredibilitas, kesan, dan gagasan yang berkembang melalui koneksi antarmanusia.
Karena itu, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan perlu tetap diimbangi dengan kesempatan bagi anak untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara langsung dengan guru maupun teman sebaya.
Di sisi lain, Galih menilai dunia pendidikan tetap perlu beradaptasi dengan perkembangan AI. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu guru menghadapi keberagaman kebutuhan belajar siswa.
Ia turut mengembangkan platform pembelajaran matematika adaptif berbasis AI yang dirancang untuk membuat pembelajaran lebih personal sesuai kemampuan masing-masing siswa. Pemanfaatan teknologi ini menjadi salah satu cara membantu guru yang harus menangani sekitar 30 siswa dalam satu kelas dengan karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda.
Galih menegaskan AI seharusnya digunakan sebagai alat pendukung, bukan pengganti guru. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi dapat membantu mengurangi beban pendidik sekaligus membuat proses pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.
Sumber: HarianJogja
Jumlah pengunjung : 58 Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yulia...
Jumlah pengunjung : 16 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan layanan...
Jumlah pengunjung : 18 Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengin...
Jumlah pengunjung : 59 Indonesia dan Arab Saudi memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi, s...
Jumlah pengunjung : 61 Pemerintah membuka seleksi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS)...
Jumlah pengunjung : 39 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.