Wanda Latifah • Dec 01 2025 • 49 Dilihat

Isu mengenai efektivitas Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi polemik nasional. Program yang semestinya menjadi terobosan dalam memperbaiki status gizi anak justru memunculkan berbagai pertanyaan—mulai dari kesiapan pelaksanaan, kualitas makanan, hingga peran dan kompetensi tenaga gizi di lapangan. Bahkan, muncul pernyataan bahwa pelaksanaan program dapat dilakukan oleh tenaga yang hanya mengikuti pelatihan singkat, tanpa perlu latar belakang pendidikan gizi.
Dalam situasi seperti ini, penting bagi publik untuk memahami bahwa intervensi gizi bukan sekadar membagikan makanan. Gizi adalah ilmu yang kompleks, melibatkan aspek fisiologi, biokimia, keamanan pangan, epidemiologi, penentuan kebutuhan energi, dan manajemen intervensi dalam skala populasi.
Mengapa Program MBG Perlu Dievaluasi Secara Ilmiah?
Program MBG pada dasarnya memiliki potensi besar. Beberapa manfaat yang dapat dicapai bila diterapkan dengan benar antara lain:
Namun, manfaat ini hanya muncul bila program disusun berdasarkan analisis kebutuhan gizi, perhitungan menu, dan standar keamanan pangan yang tepat. Tanpa itu, MBG berpotensi hanya menjadi kegiatan logistik, bukan intervensi gizi.
Dampak Ketika Tenaga Non-Gizi Mengambil Alih Peran Ahli Gizi
Fenomena jurusan lain yang beralih profesi dan mengklaim diri sebagai ahli gizi semakin sering terjadi. Dalam konteks program besar seperti MBG, hal ini menimbulkan kekhawatiran karena:
1. Ketidakakuratan Perhitungan Kebutuhan Gizi Anak
Perhitungan kebutuhan energi, protein, zat besi, kalsium, serta mikronutrien lain tidak dapat dipelajari dalam waktu tiga bulan. Kesalahan sedikit saja dapat membuat anak tidak terpenuhi kebutuhan gizinya atau bahkan kelebihan kalori.
2. Risiko Keamanan Pangan
Kontaminasi bakteri, kesalahan penyimpanan, atau proses memasak yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko keracunan. Ini bukan sekadar teori—data BPOM menunjukkan kasus keracunan makanan sekolah terus terjadi setiap tahun.
3. Salah Target dan Salah Pesan Gizi
Intervensi gizi tidak hanya soal makanan, tetapi juga edukasi. Tanpa landasan ilmu yang kuat, informasi gizi yang salah sangat mudah tersebar dan berdampak pada perilaku masyarakat.
Mengapa Lulusan Gizi Tidak Bisa Digantikan Pelatihan 3 Bulan?
Pernyataan bahwa pekerjaan ahli gizi dapat digantikan oleh pelatihan beberapa bulan jelas mengabaikan kompleksitas ilmu gizi. Selama empat tahun, mahasiswa gizi belajar:
Tidak ada pelatihan singkat yang mampu menggantikan fondasi ilmiah tersebut. Jika pengelolaan program intervensi gizi dikerjakan tanpa kompetensi yang tepat, maka nama baik profesi ahli gizi akan semakin tersudut, padahal kesalahan justru terjadi karena tenaga yang tidak sesuai dipaksakan untuk mengerjakan pekerjaan kritis ini.
Evaluasi MBG: Perlu Kembali ke Koridor Ilmu Pengetahuan
Program MBG adalah program mulia. Namun, pelaksanaannya harus berbasis ilmu, bukan sekadar birokrasi atau logistik distribusi makanan.
Mengelola gizi anak bangsa bukan pekerjaan yang bisa dipelajari dalam tiga bulan, dan bukan sekadar “bisa memasak makanan sehat”. Ini adalah profesi yang memerlukan dasar ilmiah, kompetensi, etika, dan tanggung jawab besar.
Sudah saatnya pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat mengembalikan posisi ahli gizi sebagai pilar utama kesehatan masyarakat, bukan menggantikan dengan tenaga yang tidak memiliki kompetensi memadai. Karena ketika ilmu diabaikan, yang menjadi taruhannya adalah kesehatan generasi masa depan.
Penulis: Wanda Latifah
Jumlah pengunjung : 23 JAKARTA—Presiden Prabowo Subianto menyetujui pemberian 100 beasiswa LPDP kh...
Jumlah pengunjung : 40 Indonesia baru saja menorehkan rekor baru di kancah global. Bukan di bidang o...
Jumlah pengunjung : 50 Yogyakarta — Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i secara resmi membu...
Jumlah pengunjung : 30 Laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (A...
Jumlah pengunjung : 49 Kecerdasan Buatan (AI) telah mengubah secara mendasar dunia pendidikan dalam ...
Jumlah pengunjung : 44 Pemanfaatan teknologi biometrik dalam layanan imigrasi di Indonesia memasuki ...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.