Categories
  • Beasiswa S1
  • Beasiswa S2
  • Beasiswa S3
  • Berita Provinsi
  • Berita Pusat
  • Event Edu
  • Info Beasiswa
  • Info Pendidikan
  • LLDIKTIV
  • Pameran DIY
  • Pengabmas
  • Prestasi PT
  • Rubrik Ilmiah
  • Seminar PT DIY
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Wisata edu
  • Workshop DIY
  • Efektivitas Program MBG dan Urgensi Peran Ahli Gizi: Sebuah Catatan Kritis

    Dec 01 2025125 Dilihat

    Isu mengenai efektivitas Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi polemik nasional. Program yang semestinya menjadi terobosan dalam memperbaiki status gizi anak justru memunculkan berbagai pertanyaan—mulai dari kesiapan pelaksanaan, kualitas makanan, hingga peran dan kompetensi tenaga gizi di lapangan. Bahkan, muncul pernyataan bahwa pelaksanaan program dapat dilakukan oleh tenaga yang hanya mengikuti pelatihan singkat, tanpa perlu latar belakang pendidikan gizi.

    Dalam situasi seperti ini, penting bagi publik untuk memahami bahwa intervensi gizi bukan sekadar membagikan makanan. Gizi adalah ilmu yang kompleks, melibatkan aspek fisiologi, biokimia, keamanan pangan, epidemiologi, penentuan kebutuhan energi, dan manajemen intervensi dalam skala populasi.

    Mengapa Program MBG Perlu Dievaluasi Secara Ilmiah?

    Program MBG pada dasarnya memiliki potensi besar. Beberapa manfaat yang dapat dicapai bila diterapkan dengan benar antara lain:

    • Mengurangi kekurangan gizi dan anemia pada anak sekolah
    • Meningkatkan konsentrasi belajar
    • Membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini
    • Meningkatkan akses pangan bergizi terutama bagi keluarga berpendapatan rendah

    Namun, manfaat ini hanya muncul bila program disusun berdasarkan analisis kebutuhan gizi, perhitungan menu, dan standar keamanan pangan yang tepat. Tanpa itu, MBG berpotensi hanya menjadi kegiatan logistik, bukan intervensi gizi.

    Dampak Ketika Tenaga Non-Gizi Mengambil Alih Peran Ahli Gizi

    Fenomena jurusan lain yang beralih profesi dan mengklaim diri sebagai ahli gizi semakin sering terjadi. Dalam konteks program besar seperti MBG, hal ini menimbulkan kekhawatiran karena:

    1. Ketidakakuratan Perhitungan Kebutuhan Gizi Anak

    Perhitungan kebutuhan energi, protein, zat besi, kalsium, serta mikronutrien lain tidak dapat dipelajari dalam waktu tiga bulan. Kesalahan sedikit saja dapat membuat anak tidak terpenuhi kebutuhan gizinya atau bahkan kelebihan kalori.

    2. Risiko Keamanan Pangan

    Kontaminasi bakteri, kesalahan penyimpanan, atau proses memasak yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko keracunan. Ini bukan sekadar teori—data BPOM menunjukkan kasus keracunan makanan sekolah terus terjadi setiap tahun.

    3. Salah Target dan Salah Pesan Gizi

    Intervensi gizi tidak hanya soal makanan, tetapi juga edukasi. Tanpa landasan ilmu yang kuat, informasi gizi yang salah sangat mudah tersebar dan berdampak pada perilaku masyarakat.

    Mengapa Lulusan Gizi Tidak Bisa Digantikan Pelatihan 3 Bulan?

    Pernyataan bahwa pekerjaan ahli gizi dapat digantikan oleh pelatihan beberapa bulan jelas mengabaikan kompleksitas ilmu gizi. Selama empat tahun, mahasiswa gizi belajar:

    • Biokimia gizi
    • Metabolisme energi dan zat gizi
    • Ilmu pangan & keamanan pangan (food safety)
    • Penilaian status gizi individu & populasi
    • Perencanaan menu & diet terapi
    • Epidemiologi gizi
    • Perencanaan program intervensi gizi
    • Manajemen layanan makanan

    Tidak ada pelatihan singkat yang mampu menggantikan fondasi ilmiah tersebut. Jika pengelolaan program intervensi gizi dikerjakan tanpa kompetensi yang tepat, maka nama baik profesi ahli gizi akan semakin tersudut, padahal kesalahan justru terjadi karena tenaga yang tidak sesuai dipaksakan untuk mengerjakan pekerjaan kritis ini.

    Evaluasi MBG: Perlu Kembali ke Koridor Ilmu Pengetahuan

    Program MBG adalah program mulia. Namun, pelaksanaannya harus berbasis ilmu, bukan sekadar birokrasi atau logistik distribusi makanan.

    Mengelola gizi anak bangsa bukan pekerjaan yang bisa dipelajari dalam tiga bulan, dan bukan sekadar “bisa memasak makanan sehat”. Ini adalah profesi yang memerlukan dasar ilmiah, kompetensi, etika, dan tanggung jawab besar.

    Sudah saatnya pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat mengembalikan posisi ahli gizi sebagai pilar utama kesehatan masyarakat, bukan menggantikan dengan tenaga yang tidak memiliki kompetensi memadai. Karena ketika ilmu diabaikan, yang menjadi taruhannya adalah kesehatan generasi masa depan.

    Penulis: Wanda Latifah

    Share to

    Related News

    Anggaran Pendidikan 2027 Naik Jadi Rp820,9 Triliun, Ini Rincian Penggunaannya

    Rp820,9 Triliun untuk Pendidikan 2027, I...

    by Aug 20 2026

    Jumlah pengunjung : 59 Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp820,9 triliun dalam R...

    Mendiktisaintek Brian Yuliarto bertemu Dubes Arab Saudi untuk Indonesia membahas penguatan kerja sama pendidikan tinggi, riset bersama, dan pertukaran mahasiswa.

    Indonesia-Arab Saudi Perkuat Kolaborasi ...

    by Aug 12 2026

    Jumlah pengunjung : 112 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memper...

    Senyum Sumringah Mahasiswa Baru UGM Warn...

    by Aug 04 2026

    Jumlah pengunjung : 126 YOGYAKARTA – Ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) tampak pe...

    Program AKSARA Mahasiswa 2026 Dorong Mahasiswa Hadirkan Solusi untuk Masyarakat

    Program AKSARA Mahasiswa 2026 Dorong Mah...

    by Jul 30 2026

    Jumlah pengunjung : 119 DENPASAR – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisa...

    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menerima audiensi pengurus ABPPTSI untuk membahas penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta dalam mendukung pembangunan nasional.

    Kemdiktisaintek Perkuat Sinergi PTN-PTS,...

    by Jul 29 2026

    Jumlah pengunjung : 120 JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisai...

    Peserta mengikuti seleksi sekolah kedinasan sebagai salah satu jalur pendidikan yang membuka peluang berkarier sebagai aparatur sipil negara (ASN) setelah lulus.

    Cara Jadi CPNS Lewat Sekolah Kedinasan, ...

    by Jul 29 2026

    Jumlah pengunjung : 125 JAKARTA – Sekolah kedinasan kembali menjadi salah satu jalur yang diminati...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
    back to top