Categories
  • Beasiswa S1
  • Beasiswa S2
  • Beasiswa S3
  • Berita Provinsi
  • Berita Pusat
  • Event Edu
  • Info Beasiswa
  • Info Pendidikan
  • LLDIKTIV
  • Pameran DIY
  • Pengabmas
  • Prestasi PT
  • Rubrik Ilmiah
  • Seminar PT DIY
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Wisata edu
  • Workshop DIY
  • Di Balik Piring Sehat: Cerita Seru Mahasiswa Gizi Menjaga Keseimbangan Tubuh dan Pikiran

    Oct 25 2025266 Dilihat

    Sejujurnya, dulu saya tidak terlalu peduli soal gizi. Kalau dibandingkan dengan lima sapu lidi yang diikat jadi satu, berat badan saya mungkin tidak jauh beda—kurus, mudah lemas, dan sering sakit. Sampai suatu hari, saya memperhatikan pola makan saya sendiri, bukan “Asal makan yang penting kenyang”. Dari situ saya mulai kepo, “Sebenarnya, apa sih gizi itu?” dan rasa penasaran itulah yang membawa saya memilih jurusan ahli gizi.

    Ketika Ilmu Bertemu Empati

    Saya pernah mengikuti kegiatan edukasi gizi di desa. Ada salah satu ibu yang berkata tentang kebiasaan makannya yang buruk, “Ini kan sudah kebiasaan dari dulu, Mbak. Mau diubah bagaimana?”. Saat itu saya sadar, menjadi mahasiswa gizi bukan hanya soal tahu makanan sehat. Kami harus punya cara komunikasi yang baik, empati, kemampuan meyakinkan orang tanpa menggurui. Saya jadi teringat nasihat salah satu dosen saya, “Karena ilmu itu tidak akan berarti kalau tidak bisa sampai ke masyarakat”. Saya pun mengerti, tugas kami bukan hanya memberi tahu, tapi mengajak berubah.

    Kesehatan Itu Investasi Jangka Panjang

    Semakin saya belajar, semakin saya yakin bahwa “Setiap suapan adalah keputusan untuk masa depan”. Gizi mengajari saya bahwa menjaga tubuh dan pikiran bukan dua hal terpisah. Saat tubuh sehat – pikiran lebih bahagia – hidup terasa lebih ringan. Mungkin perjalanan ini tidak selalu mulus, tapi setiap tantangannya memberi cerita yang menyenangkan untuk dikenang, dan dari situlah saya menemukan serunya menjadi mahasiswa gizi. Kami belajar mencintai diri sendiri, dan membantu orang lain melakukan hal yang sama.

    Perjalanan yang Nggak Selalu Manis

    Banyak orang kira mahasiswa gizi itu cuma masak-masak, pakai celemek, lalu mencicipi makanan tiap hari. Padahal… hmmm, kalau semudah itu mungkin semua orang mau ya? Faktanya, kami belajar tentang bagaimana makanan masuk dan diproses tubuh, zat gizi yang bekerja menjaga kesehatan, penyakit akibat kekurangan atau kelebihan gizi, dan bagaimana pola makan seseorang bisa dipengaruhi budaya dan lingkungan. Kadang materinya bikin kepala berasap. Belum lagi tugas konseling gizi ke masyarakat yang harus turun langsung dan menghadapi karakter orang lain, tapi justru di situlah ceritanya jadi seru.

    Salah satu bagian paling menyenangkan dalam perkuliahan ini adalah praktikum memasak. Bukan sekadar memasak seperti di dapur rumah, tapi benar-benar mengolah makanan yang memenuhi standar tepat gizi, aman, dan sesuai kebutuhan setiap orang. Di dapur praktikum, saya belajar bahwa setiap sendok minyak yang dituangkan, setiap bahan yang ditimbang, semuanya harus penuh pertimbangan. Dan yang paling berkesan, tentu saja kebersamaan dengan teman-teman satu kelompok. Meskipun ribet, panik, kadang salah gramasi dalam resep, tapi di situlah justru tercipta kenangan. Kami tertawa, belajar, dan tumbuh bersama, dari yang benar-benar nggak bisa masak sampai akhirnya bisa menyajikan hidangan sehat yang layak dinilai dosen.

    Tapi perjalanan ini juga tidak selalu mudah. Ada saat di mana tugas datang bertubi-tubi, laporan praktikum menumpuk, dan kami harus tetap kuat menghadapi responsi atau ujian praktik yang bikin deg-degan. Kadang rasanya ingin menyerah, tapi selalu teringat kembali bahwa tujuan kami lebih besar dari rasa lelah itu. Selain belajar teori di kelas, kami juga dituntut untuk bisa menguasai ketika nantinya harus terjun di lapangan. Dari mulai melakukan recall 24 jam, food record, survei konsumsi rumah tangga, hingga menghitung status gizi menggunakan berbagai metode. Di sinilah kami mulai menyadari bahwa setiap angka yang tertera dalam tabel gizi punya cerita dan tanggung jawab di baliknya. Karena pada akhirnya, kami tidak hanya mempelajari makanan, tetapi manusia yang mengonsumsi makanan itu. Apa kebiasaannya? Apa keterbatasannya? Apa yang bisa membuat mereka menjadi lebih sehat dan bahagia? Semua itu harus dipikirkan dan dicarikan solusinya secara nyata.

    Menjadi mahasiswa gizi berarti belajar menjadi pahlawan kecil dalam dunia kesehatan. Kami mungkin tidak memegang stetoskop, tapi kami memegang kunci penting untuk mencegah penyakit dari akarnya, yaitu perilaku makan. Sehat tidak hanya tentang tubuh yang kuat, tetapi juga hati yang merasa cukup dan kehidupan yang lebih bermakna. Dan semua itu dimulai… dari satu piring makan yang bergizi.

    Baca juga: Mitos vs. Fakta Dunia Mahasiswa: Jangan Percaya Sebelum Kamu Buktikan Sendiri

    Share to

    Related News

    Arab Saudi Siapkan 1.000 Beasiswa, Kolaborasi Riset Indonesia Kian Diperkuat

    Arab Saudi Siapkan 1.000 Beasiswa, Kolab...

    by Sep 03 2026

    Jumlah pengunjung : 28 Indonesia dan Arab Saudi memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi, s...

    PPDS 2026 Buka 25 Prodi Baru, Cek Daftar Spesialis dan Rumah Sakitnya

    PPDS 2026 Buka 25 Prodi Baru, Cek Daftar...

    by Sep 02 2026

    Jumlah pengunjung : 43 Pemerintah membuka seleksi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS)...

    SNPMB 2026 Dievaluasi, Pemerintah Perkuat Transparansi dan Integritas Seleksi

    SNPMB 2026 Dievaluasi, Pemerintah Perkua...

    by Aug 31 2026

    Jumlah pengunjung : 33 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama...

    Mendiktisaintek Dorong Penguatan PTS agar Beri Dampak Nyata bagi Masyarakat

    Mendiktisaintek Dorong Penguatan PTS aga...

    by Aug 26 2026

    Jumlah pengunjung : 112 Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuli...

    Anggaran Pendidikan 2027 Naik Jadi Rp820,9 Triliun, Ini Rincian Penggunaannya

    Rp820,9 Triliun untuk Pendidikan 2027, I...

    by Aug 20 2026

    Jumlah pengunjung : 160 Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp820,9 triliun dalam ...

    Mendiktisaintek Brian Yuliarto bertemu Dubes Arab Saudi untuk Indonesia membahas penguatan kerja sama pendidikan tinggi, riset bersama, dan pertukaran mahasiswa.

    Indonesia-Arab Saudi Perkuat Kolaborasi ...

    by Aug 12 2026

    Jumlah pengunjung : 145 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memper...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
    back to top