Wanda Latifah • Dec 01 2025 • 103 Dilihat

Kirab Budaya Merti Code 2025 berlangsung meriah di Kampung Jetisharjo, Yogyakarta, pada Minggu (30/11/2025). Acara ini digelar sebagai bentuk pelestarian sekaligus penghormatan masyarakat terhadap Kali Code.
Ratusan warga memenuhi area di bawah Jembatan Sarjito, tempat berlangsungnya upacara tersebut. Tradisi yang telah berjalan sejak 2002 ini kembali diadakan setelah sempat terhenti selama masa pandemi. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengambilan air suci dari tujuh sumber mata air di Kali Tangkil Hulu Code, Lereng Merapi—tepatnya wilayah Turgo—serta dari enam sumber lain yaitu Tuk Gemawang, Gondolayu, Terban, Tuk Lanang, Tuk Wadon, dan Tuk Jetisharjo, pada Sabtu (29/11/2025).
Prosesi pengambilan air dipimpin oleh Lurah Cokrodiningratan, Bagus Aditya, dan diikuti oleh berbagai unsur masyarakat sebagai simbol pelestarian lingkungan di kawasan Merapi.
Pada malam harinya digelar tirakatan atau kenduren di Jetisharjo, yang berisi refleksi Merti Code oleh Drs. Totok Pratopo dan Harris Syarif Usman, SH., M.Kn. (Pemerti Code). Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng serta doa bersama untuk keselamatan warga yang bermukim di sekitar Kali Code.
Dalam sambutannya pada Kirab Merti Code 2025, Drs. Ekwanto selaku Mantri Pamong Praja Jetis menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara budaya ini sebagai upaya menjaga kelestarian Kali Code.
Sejumlah tokoh dan perwakilan lembaga hadir, di antaranya Kapolsek, Danramil, Kepala KUA, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata, RM Doni Megananda (Pokja Kebudayaan), Ketua LPMK Margono, perwakilan Kampung Wisata, Pokdarwis, Ketua Kampung, RT, RW, lembaga kemantren dan kelurahan, serta masyarakat Yogyakarta.
Acara dimulai dengan pengalungan ronce melati oleh sesepuh Code, H. Harris Syarif Usman, pada tombak Kyai Ranumurti paringan dalem Sri Sultan Hamengkubuwono yang dibawa Bergodo Musikanan Pasembaja pimpinan Sudiarso. Prosesi dilanjutkan dengan pengisian air suci ke dalam enceh atau gentong oleh MPP, Kapolsek, Danramil, KUA, Lurah, Ketua LPMK, Dinas, Kasaningrat, serta pihak lain sebelum air tersebut dibagikan kepada warga bersama Gunungan Boga dan sayur-mayur.
Kirab budaya yang berlangsung mengelilingi kawasan Tugu Golong Gilig—melintasi kantor Kelurahan Cokrodiningratan—berakhir di area Gebyar UMKM sebelah barat Kantor PDAM Jalan AM Sangaji, Yogyakarta. Kirab ini dimeriahkan oleh atraksi edan-edanan, Bergodo Pasembaja, jajar keprajan, pembawa Air Suci 7 Sumber, Gunungan Boga, serta penampilan kelompok seni dari Jetisharjo, Cokrokusuman, dan Cokrodiningratan.
Masyarakat tampak sangat antusias menerima air suci yang menjadi simbol komitmen menjaga kelestarian Kali Code dengan tidak membuang sampah serta rutin melakukan reresik atau aksi bersih-bersih sungai.
Kirab Merti Code ini juga menegaskan upaya pelestarian Kali Code melalui pengelolaan sampah, pengendalian limbah, serta konservasi dan penghijauan. Semangat ini sejalan dengan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yaitu menjaga harmoni antara manusia, alam, dan lingkungan.
Sumber: Harian Jogja
Sumber gambar: Warta.Jogjakota
Penulis: Wanda Latifah
Jumlah pengunjung : 42 AKARTA – DPR RI kembali mendorong peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik...
Jumlah pengunjung : 44 JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi ...
Jumlah pengunjung : 61 JAKARTA – Pemerintah berencana menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelaj...
Jumlah pengunjung : 60 JOGJA – Meningkatnya persaingan di dunia pendidikan tinggi menjadi perhatia...
Jumlah pengunjung : 87 Malioboro akan memasuki babak baru dalam penataan kawasan wisata. Pemerintah ...
Jumlah pengunjung : 135 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi mengalam...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.