Wanda Latifah • May 09 2026 • 51 Dilihat

Belakangan ini muncul polemik ketika salah satu mitra program MBG mengganti nasi dengan ubi. Ada yang memprotes karena menganggap “makan itu pakai harus nasi”. Padahal, dari sudut pandang ilmu gizi, keputusan tersebut tidak keliru. Ubi adalah sumber karbohidrat yang sah dan dapat menjadi pengganti nasi, selama tetap sesuai dengan kebutuhan energi dan zat gizi.
Supaya tidak salah paham, kita perlu kembali ke prinsip dasar gizi: karbohidrat adalah sumber energi utama tubuh, bukan nasi semata. Nasi hanyalah salah satu bentuk makanan sumber karbohidrat. Selain nasi, ada banyak pilihan lain seperti jagung, kentang, singkong, roti, mie, dan ubi. Selama kandungan dan porsinya sesuai kebutuhan, semuanya bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Ubi termasuk bahan pangan lokal yang kaya karbohidrat kompleks. Artinya, energi dari ubi dilepaskan lebih perlahan dibanding gula sederhana. Ini membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan dapat mendukung kestabilan energi. Selain itu, ubi juga mengandung serat, vitamin, dan mineral tertentu yang bermanfaat bagi tubuh.
Secara komposisi, ubi memang berbeda dengan nasi. Namun perbedaan itu bukan berarti salah satu lebih “wajib” dibanding yang lain. Dalam ilmu gizi, yang dihitung adalah jumlah karbohidrat total dan kebutuhan energi individu, bukan jenis bahan makanannya saja.
Jika nasi diganti ubi, maka yang perlu diperhatikan adalah:
Selama hal-hal tersebut terpenuhi, penggantian sumber karbohidrat bukan masalah.
Mengandalkan satu jenis makanan saja (misalnya nasi setiap hari tanpa variasi) bisa membuat pola makan kurang beragam. Padahal, keberagaman pangan membantu:
Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat lokal. Menggunakan ubi atau pangan lokal lain justru bisa menjadi langkah positif dalam mendukung kemandirian pangan dan pemanfaatan hasil pertanian daerah.
Setiap orang memiliki kebutuhan energi yang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Dalam program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), tujuan utamanya adalah memastikan penerima mendapatkan asupan energi dan zat gizi yang cukup dan seimbang.
Dalam ilmu gizi, terdapat konsep Daftar Bahan Makanan Penukar (DBMP) yang digunakan untuk memudahkan penyusunan menu agar zat gizi tetap seimbang. DBMP mengelompokkan bahan makanan berdasarkan kandungan gizinya, sehingga dalam satu kelompok, bahan makanan bisa saling menggantikan selama jumlahnya disesuaikan.
Untuk kelompok karbohidrat, satu porsi penukar umumnya mengandung sekitar 175 kkal, 40 gram karbohidrat, 4 gram protein (sesuai pedoman Kemenkes RI yang digunakan dalam perencanaan menu).
Artinya, Jika nasi 100 gram matang = 1 penukar karbohidrat, maka ubi juga bisa menggantikan nasi,
asalkan gramasinya disesuaikan sehingga kandungan energinya setara. Karena kandungan energi ubi per 100 gram lebih rendah dibanding nasi, maka porsinya perlu ditambah agar setara dengan 1 penukar nasi.
Jika terjadi protes, yang perlu dievaluasi bukan sekadar “kenapa tidak pakai nasi”, tetapi:
Kadang masalahnya bukan pada bahan makanannya, tetapi pada kurangnya pemahaman gizi di masyarakat. Edukasi menjadi kunci agar publik tidak terjebak pada persepsi bahwa satu makanan tertentu adalah satu-satunya pilihan.
Jumlah pengunjung : 62 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan langkah redistribusi gur...
Jumlah pengunjung : 22 Josepha Alexandra, atau yang akrab disapa Ocha, siswi dari SMAN 1 Pontianak, ...
Jumlah pengunjung : 22 Aksi viral Josepha Alexandra, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Pontianak, yang den...
Jumlah pengunjung : 20 Sekolah kedinasan masih menjadi salah satu pilihan favorit bagi lulusan SMA y...
Jumlah pengunjung : 66 Presiden memastikan bahwa seluruh sekolah di Indonesia akan mendapatkan progr...
Jumlah pengunjung : 79 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperkuat kualitas pendidika...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.