Categories
  • Beasiswa S1
  • Beasiswa S2
  • Beasiswa S3
  • Berita Provinsi
  • Berita Pusat
  • Event Edu
  • Info Beasiswa
  • Info Pendidikan
  • LLDIKTIV
  • Pameran DIY
  • Pengabmas
  • Prestasi PT
  • Rubrik Ilmiah
  • Seminar PT DIY
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Wisata edu
  • Workshop DIY
  • “Bukan Soal Nasi: Ubi Juga Karbohidrat yang Penting untuk Kebutuhan Energi”

    May 09 2026185 Dilihat

    Belakangan ini muncul polemik ketika salah satu mitra program MBG mengganti nasi dengan ubi. Ada yang memprotes karena menganggap “makan itu pakai harus nasi”. Padahal, dari sudut pandang ilmu gizi, keputusan tersebut tidak keliru. Ubi adalah sumber karbohidrat yang sah dan dapat menjadi pengganti nasi, selama tetap sesuai dengan kebutuhan energi dan zat gizi.

    Supaya tidak salah paham, kita perlu kembali ke prinsip dasar gizi: karbohidrat adalah sumber energi utama tubuh, bukan nasi semata. Nasi hanyalah salah satu bentuk makanan sumber karbohidrat. Selain nasi, ada banyak pilihan lain seperti jagung, kentang, singkong, roti, mie, dan ubi. Selama kandungan dan porsinya sesuai kebutuhan, semuanya bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang.

    Ubi sebagai Sumber Energi

    Ubi termasuk bahan pangan lokal yang kaya karbohidrat kompleks. Artinya, energi dari ubi dilepaskan lebih perlahan dibanding gula sederhana. Ini membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan dapat mendukung kestabilan energi. Selain itu, ubi juga mengandung serat, vitamin, dan mineral tertentu yang bermanfaat bagi tubuh.

    Secara komposisi, ubi memang berbeda dengan nasi. Namun perbedaan itu bukan berarti salah satu lebih “wajib” dibanding yang lain. Dalam ilmu gizi, yang dihitung adalah jumlah karbohidrat total dan kebutuhan energi individu, bukan jenis bahan makanannya saja.

    Jika nasi diganti ubi, maka yang perlu diperhatikan adalah:

    • Apakah jumlah karbohidratnya setara?
    • Apakah total kalori tetap sesuai kebutuhan?
    • Apakah lauk, sayur, dan sumber proteinnya tetap lengkap?
    • Apakah variasi menu tetap memenuhi prinsip gizi seimbang?

    Selama hal-hal tersebut terpenuhi, penggantian sumber karbohidrat bukan masalah.

    Mengapa Variasi Pangan Itu Penting?

    Mengandalkan satu jenis makanan saja (misalnya nasi setiap hari tanpa variasi) bisa membuat pola makan kurang beragam. Padahal, keberagaman pangan membantu:

    • Meningkatkan kualitas asupan zat gizi
    • Mendukung ketahanan pangan lokal
    • Mengurangi ketergantungan pada satu komoditas
    • Memberi alternatif saat harga atau ketersediaan berubah

    Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat lokal. Menggunakan ubi atau pangan lokal lain justru bisa menjadi langkah positif dalam mendukung kemandirian pangan dan pemanfaatan hasil pertanian daerah.

    Prinsip yang Perlu Dipahami: Energi, Bukan Label Makanan

    Setiap orang memiliki kebutuhan energi yang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Dalam program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), tujuan utamanya adalah memastikan penerima mendapatkan asupan energi dan zat gizi yang cukup dan seimbang.

    Dalam ilmu gizi, terdapat konsep Daftar Bahan Makanan Penukar (DBMP) yang digunakan untuk memudahkan penyusunan menu agar zat gizi tetap seimbang. DBMP mengelompokkan bahan makanan berdasarkan kandungan gizinya, sehingga dalam satu kelompok, bahan makanan bisa saling menggantikan selama jumlahnya disesuaikan.

    Untuk kelompok karbohidrat, satu porsi penukar umumnya mengandung sekitar 175 kkal, 40 gram karbohidrat, 4 gram protein (sesuai pedoman Kemenkes RI yang digunakan dalam perencanaan menu).

    Artinya, Jika nasi 100 gram matang = 1 penukar karbohidrat, maka ubi juga bisa menggantikan nasi,
    asalkan gramasinya disesuaikan sehingga kandungan energinya setara. Karena kandungan energi ubi per 100 gram lebih rendah dibanding nasi, maka porsinya perlu ditambah agar setara dengan 1 penukar nasi.

    Jadi, Apa yang Sebenarnya Harus Dipertanyakan?

    Jika terjadi protes, yang perlu dievaluasi bukan sekadar “kenapa tidak pakai nasi”, tetapi:

    • Apakah informasi kepada masyarakat sudah cukup jelas?
    • Apakah ada edukasi bahwa karbohidrat tidak harus selalu nasi?
    • Apakah porsi dan komposisi menu sudah dihitung dengan benar?

    Kadang masalahnya bukan pada bahan makanannya, tetapi pada kurangnya pemahaman gizi di masyarakat. Edukasi menjadi kunci agar publik tidak terjebak pada persepsi bahwa satu makanan tertentu adalah satu-satunya pilihan.

    Share to

    Related News

    Anggaran Pendidikan 2027 Naik Jadi Rp820,9 Triliun, Ini Rincian Penggunaannya

    Rp820,9 Triliun untuk Pendidikan 2027, I...

    by Aug 20 2026

    Jumlah pengunjung : 59 Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp820,9 triliun dalam R...

    Mendiktisaintek Brian Yuliarto bertemu Dubes Arab Saudi untuk Indonesia membahas penguatan kerja sama pendidikan tinggi, riset bersama, dan pertukaran mahasiswa.

    Indonesia-Arab Saudi Perkuat Kolaborasi ...

    by Aug 12 2026

    Jumlah pengunjung : 112 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memper...

    Senyum Sumringah Mahasiswa Baru UGM Warn...

    by Aug 04 2026

    Jumlah pengunjung : 126 YOGYAKARTA – Ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) tampak pe...

    Program AKSARA Mahasiswa 2026 Dorong Mahasiswa Hadirkan Solusi untuk Masyarakat

    Program AKSARA Mahasiswa 2026 Dorong Mah...

    by Jul 30 2026

    Jumlah pengunjung : 119 DENPASAR – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisa...

    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menerima audiensi pengurus ABPPTSI untuk membahas penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta dalam mendukung pembangunan nasional.

    Kemdiktisaintek Perkuat Sinergi PTN-PTS,...

    by Jul 29 2026

    Jumlah pengunjung : 119 JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisai...

    Peserta mengikuti seleksi sekolah kedinasan sebagai salah satu jalur pendidikan yang membuka peluang berkarier sebagai aparatur sipil negara (ASN) setelah lulus.

    Cara Jadi CPNS Lewat Sekolah Kedinasan, ...

    by Jul 29 2026

    Jumlah pengunjung : 124 JAKARTA – Sekolah kedinasan kembali menjadi salah satu jalur yang diminati...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
    back to top