Categories
  • Beasiswa S1
  • Beasiswa S2
  • Beasiswa S3
  • Berita Provinsi
  • Berita Pusat
  • Event Edu
  • Info Beasiswa
  • Info Pendidikan
  • LLDIKTIV
  • Pameran DIY
  • Pengabmas
  • Prestasi PT
  • Rubrik Ilmiah
  • Seminar PT DIY
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Wisata edu
  • Workshop DIY
  • “Bukan Soal Nasi: Ubi Juga Karbohidrat yang Penting untuk Kebutuhan Energi”

    May 09 2026116 Dilihat

    Belakangan ini muncul polemik ketika salah satu mitra program MBG mengganti nasi dengan ubi. Ada yang memprotes karena menganggap “makan itu pakai harus nasi”. Padahal, dari sudut pandang ilmu gizi, keputusan tersebut tidak keliru. Ubi adalah sumber karbohidrat yang sah dan dapat menjadi pengganti nasi, selama tetap sesuai dengan kebutuhan energi dan zat gizi.

    Supaya tidak salah paham, kita perlu kembali ke prinsip dasar gizi: karbohidrat adalah sumber energi utama tubuh, bukan nasi semata. Nasi hanyalah salah satu bentuk makanan sumber karbohidrat. Selain nasi, ada banyak pilihan lain seperti jagung, kentang, singkong, roti, mie, dan ubi. Selama kandungan dan porsinya sesuai kebutuhan, semuanya bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang.

    Ubi sebagai Sumber Energi

    Ubi termasuk bahan pangan lokal yang kaya karbohidrat kompleks. Artinya, energi dari ubi dilepaskan lebih perlahan dibanding gula sederhana. Ini membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan dapat mendukung kestabilan energi. Selain itu, ubi juga mengandung serat, vitamin, dan mineral tertentu yang bermanfaat bagi tubuh.

    Secara komposisi, ubi memang berbeda dengan nasi. Namun perbedaan itu bukan berarti salah satu lebih “wajib” dibanding yang lain. Dalam ilmu gizi, yang dihitung adalah jumlah karbohidrat total dan kebutuhan energi individu, bukan jenis bahan makanannya saja.

    Jika nasi diganti ubi, maka yang perlu diperhatikan adalah:

    • Apakah jumlah karbohidratnya setara?
    • Apakah total kalori tetap sesuai kebutuhan?
    • Apakah lauk, sayur, dan sumber proteinnya tetap lengkap?
    • Apakah variasi menu tetap memenuhi prinsip gizi seimbang?

    Selama hal-hal tersebut terpenuhi, penggantian sumber karbohidrat bukan masalah.

    Mengapa Variasi Pangan Itu Penting?

    Mengandalkan satu jenis makanan saja (misalnya nasi setiap hari tanpa variasi) bisa membuat pola makan kurang beragam. Padahal, keberagaman pangan membantu:

    • Meningkatkan kualitas asupan zat gizi
    • Mendukung ketahanan pangan lokal
    • Mengurangi ketergantungan pada satu komoditas
    • Memberi alternatif saat harga atau ketersediaan berubah

    Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat lokal. Menggunakan ubi atau pangan lokal lain justru bisa menjadi langkah positif dalam mendukung kemandirian pangan dan pemanfaatan hasil pertanian daerah.

    Prinsip yang Perlu Dipahami: Energi, Bukan Label Makanan

    Setiap orang memiliki kebutuhan energi yang berbeda, tergantung usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Dalam program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), tujuan utamanya adalah memastikan penerima mendapatkan asupan energi dan zat gizi yang cukup dan seimbang.

    Dalam ilmu gizi, terdapat konsep Daftar Bahan Makanan Penukar (DBMP) yang digunakan untuk memudahkan penyusunan menu agar zat gizi tetap seimbang. DBMP mengelompokkan bahan makanan berdasarkan kandungan gizinya, sehingga dalam satu kelompok, bahan makanan bisa saling menggantikan selama jumlahnya disesuaikan.

    Untuk kelompok karbohidrat, satu porsi penukar umumnya mengandung sekitar 175 kkal, 40 gram karbohidrat, 4 gram protein (sesuai pedoman Kemenkes RI yang digunakan dalam perencanaan menu).

    Artinya, Jika nasi 100 gram matang = 1 penukar karbohidrat, maka ubi juga bisa menggantikan nasi,
    asalkan gramasinya disesuaikan sehingga kandungan energinya setara. Karena kandungan energi ubi per 100 gram lebih rendah dibanding nasi, maka porsinya perlu ditambah agar setara dengan 1 penukar nasi.

    Jadi, Apa yang Sebenarnya Harus Dipertanyakan?

    Jika terjadi protes, yang perlu dievaluasi bukan sekadar “kenapa tidak pakai nasi”, tetapi:

    • Apakah informasi kepada masyarakat sudah cukup jelas?
    • Apakah ada edukasi bahwa karbohidrat tidak harus selalu nasi?
    • Apakah porsi dan komposisi menu sudah dihitung dengan benar?

    Kadang masalahnya bukan pada bahan makanannya, tetapi pada kurangnya pemahaman gizi di masyarakat. Edukasi menjadi kunci agar publik tidak terjebak pada persepsi bahwa satu makanan tertentu adalah satu-satunya pilihan.

    Share to

    Related News

    Peluncuran Program Sinergi Peduli Pendidikan Bermutu (PSPB) oleh Kemendikdasmen sebagai upaya memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

    PSPB Resmi Diluncurkan, Kemendikdasmen P...

    by Jul 07 2026

    Jumlah pengunjung : 65 JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi ...

    Siswa sekolah dasar mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris di kelas sebagai bagian dari persiapan kebijakan mata pelajaran wajib yang akan diterapkan secara nasional mulai 2027.

    Mulai 2027, Bahasa Inggris Jadi Mata Pel...

    by Jun 23 2026

    Jumlah pengunjung : 60 JAKARTA – Pemerintah berencana menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelaj...

    Peserta dan pemangku kepentingan pendidikan mengikuti Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) 2026 di Sleman untuk membahas transformasi pendidikan, inovasi pembelajaran, dan pendidikan inklusif di Indonesia.

    Konferensi Pendidikan Indonesia 2026 Dig...

    by Jun 08 2026

    Jumlah pengunjung : 185 SLEMAN – Kabupaten Sleman akan menjadi tuan rumah Konferensi Pendidikan In...

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti berfoto bersama pelajar peserta Pentas Pelajar 2026 yang menampilkan beragam kreativitas seni dan karya siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

    Kemendikdasmen Dorong Bakat Seni Pelajar...

    by May 26 2026

    Jumlah pengunjung : 124 JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengh...

    Kemendikdasmen resmi mengubah aturan masuk SD dengan memperbolehkan anak usia 5,5 tahun mendaftar sekolah dasar apabila dinilai memiliki kesiapan psikologis dan kemampuan belajar yang memadai.

    Kemendikdasmen Resmi Ubah Syarat Masuk S...

    by May 26 2026

    Jumlah pengunjung : 109 JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melak...

    Ekonom FEB UGM Wisnu Setiadi Nugroho mengkritik rencana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri karena dinilai dapat mengurangi fungsi pendidikan tinggi sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan cara berpikir kritis.

    Akademisi UGM Soroti Wacana Penutupan Pr...

    by May 25 2026

    Jumlah pengunjung : 93 YOGYAKARTA — Rencana pemerintah yang disebut akan menutup sejumlah program ...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
    back to top