Sharwo • Dec 05 2025 • 82 Dilihat

Keberadaan hutan sebagai ekosistem kompleks yang menaungi ragam vegetasi dan satwa memegang peranan vital bagi bumi. Tergantung pada iklim dan kondisi tanahnya, hutan terbagi menjadi beberapa jenis, mulai dari sabana, hutan rawa gambut, hingga hutan tropis yang memiliki curah hujan tinggi.
Di antara jenis tersebut, hutan tropis menjadi penyangga kehidupan yang krusial karena fungsinya dalam mitigasi perubahan iklim, penyedia sumber air, serta habitat bagi keanekaragaman hayati. Sayangnya, penyusutan luas hutan tropis, khususnya hutan tropis primer yaitu hutan alami yang belum tersentuh aktivitas manusia terus terjadi. Kondisi ini memicu ketidakstabilan ekosistem dan meningkatkan frekuensi bencana alam seperti banjir, longsor, dan kekeringan.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, M Iqbal Damanik, menyoroti bahwa hilangnya hutan bukan sekadar soal berkurangnya jumlah pohon, melainkan kehancuran sebuah sistem kehidupan.
“Jadi, ketika ada hutan yang terbuka, disitu tidak hanya pohonnya yang hilang, tetapi ada keanekaragaman hayati yang hilang disitu. Jadi dia dijadikan fungsi ekosistem, jadi logika business as usual yang menjadikan lahan atau hutan sebagai business as usual tidak melihat bahwa hutan sebagai sebuah ekosistem menyeluruh. Bahwa ada yang hidup disitu, ada keanekaragaman hayati disitu, ada masyarakat sekitar hutan yang bergantung sama hutan, ada juga orang yang tinggal di hutan, itu yang kadang tidak terlihat,” ucap M Iqbal Damanik kepada VOA Indonesia, Kamis (2/1/2025).
Mengutip data World Resources Institute (WRI) tahun 2024, Indonesia menempati peringkat kedua dunia sebagai negara yang kehilangan hutan tropis primer terluas, yakni mencapai 10,7 juta hektare. Posisi pertama ditempati oleh Brasil dengan kehilangan 33,5 juta hektare. Posisi selanjutnya diisi oleh Republik Demokratik Kongo (7,4 juta hektare), Bolivia (5,7 juta hektare), dan Malaysia (3 juta hektare).
Faktor utama hilangnya hutan ini didominasi oleh aktivitas deforestasi, seperti pembukaan lahan untuk pertambangan, perluasan perkebunan dan pertanian, serta penebangan liar.

Di dalam negeri, data Auriga Nusantara mencatat Kalimantan Timur sebagai provinsi dengan angka deforestasi tertinggi pada 2024, mencapai luas 44.483 hektare. Posisi berikutnya disusul oleh Kalimantan Barat (39.598 hektare), Kalimantan Tengah (33.389 hektare), dan Riau (20.812 hektare).
Penggundulan hutan secara masif ini tidak hanya mengancam spesies langka, tetapi juga membahayakan kehidupan manusia.
Menanggapi fenomena bencana yang kian sering terjadi akibat kerusakan alam, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Priyono Suryanto memberikan peringatan keras.
“Banyaknya ragam bencana alam sudah cukup menjadi alarm bagi tata kehidupan untuk kita kembali harmoni dengan kesemestaan secara utuh,” ujarnya pada Jumat (24/1/2025), dikutip dari laman UGM.
Sumber: GoodStats
Jumlah pengunjung : 16 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan program beasiswa sarjana...
Jumlah pengunjung : 13 Kita sering kali menganggap Kecerdasan Buatan (AI) sebagai hakim yang paling ...
Jumlah pengunjung : 19 Kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri kembali terbuka melalui prog...
Jumlah pengunjung : 28 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan kebijakan relaksasi peng...
Jumlah pengunjung : 53 Kabar gembira bagi keluarga mitra pengemudi, Yayasan GoTo Merah Putih (YGMP) ...
Jumlah pengunjung : 60 Wacana penerapan kembali pembelajaran daring sebagai bagian dari kebijakan pe...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.