Categories
  • Beasiswa S1
  • Beasiswa S2
  • Beasiswa S3
  • Berita Provinsi
  • Berita Pusat
  • Event Edu
  • Info Beasiswa
  • Info Pendidikan
  • LLDIKTIV
  • Pameran DIY
  • Pengabmas
  • Prestasi PT
  • Rubrik Ilmiah
  • Seminar PT DIY
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Wisata edu
  • Workshop DIY
  • Studi Global: Bencana Alam Picu Penurunan Nilai Akademik dan Kesehatan Mental Siswa

    Dec 09 2025108 Dilihat

    Bencana alam membawa beragam kerugian bagi masyarakat di wilayah terdampak. Salah satu sektor yang ikut terkena dampaknya adalah pendidikan, di mana proses belajar siswa menjadi tidak optimal. Sejumlah penelitian telah menguraikan bagaimana bencana memengaruhi pelajar, tidak hanya dari sisi teknis kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga perkembangan akademik serta kondisi psikologis mereka.

    Beragam Dampak Bencana terhadap Proses Belajar

    Bencana sering membuat siswa harus menerima keterbatasan dalam mengakses pendidikan. Hal ini dijelaskan dalam studi berjudul “Understanding the impacts of floods on learning quality, school facilities, and educational recovery in Indonesia” oleh Jonatan Lassa dkk dalam Disasters Volume 47 Issue, April 2022.

    Dalam riset tersebut disebutkan bahwa kejadian seperti banjir atau siklon dapat menghentikan jalannya agenda sekolah dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Mengacu pada penelitian Mudavanhu (2015) dan Gibbs dkk (2019), bencana dapat menimbulkan gangguan total terhadap kegiatan belajar, menurunkan tingkat kehadiran, hingga memengaruhi pencapaian akademik siswa.

    Namun, Amri dkk (2022) menekankan bahwa data statistik terkait dampak bencana pada sekolah sering kali hanya fokus pada jumlah bangunan yang terdampak, sehingga belum menggambarkan keseluruhan dampak terhadap siswa.

    Nilai Menurun dan Kesehatan Mental Terganggu

    Penelitian lain turut membahas pengaruh bencana terhadap kesehatan mental pelajar. Studi berjudul “The effect of consecutive disasters on educational outcomes” oleh Eileen Segarra-Alméstica dkk dalam International Journal of Disaster Risk Reduction Volume 83, Desember 2022 menyoroti dampak badai Maria dan gempa di Puerto Rico, dengan fokus pada kelompok masyarakat rentan.

    Para peneliti menjelaskan bahwa bencana memengaruhi kondisi emosional, perilaku, dan performa akademik anak-anak. Mereka juga mencatat penurunan pendaftaran sekolah menengah pada siswa laki-laki yang berasal dari keluarga petani.

    Penelitian itu turut mengungkap contoh dari Australia. Pada peristiwa kebakaran hutan, siswa yang terdampak menunjukkan performa yang lebih rendah dalam tes matematika dan membaca di tingkat sekolah dasar. Dalam kasus tersebut dijelaskan bahwa trauma dapat menghambat proses pematangan saraf, sehingga memengaruhi kemampuan kognitif anak.

    Contoh lainnya muncul dari gempa Yushu, China pada 2010. Orang dewasa yang terdampak menunjukkan kemampuan adaptasi sekolah yang lebih buruk dalam lima tahun setelah bencana. Dampak ini lebih kentara pada siswa laki-laki, pelajar tingkat junior, serta mereka yang tidak aktif dalam kegiatan konstruktif pasca-bencana. Temuan tersebut menunjukkan adanya efek jangka panjang serta perlunya dukungan kesehatan mental bagi anak-anak.

    Keterlambatan Akademik hingga Dua Tahun

    Penelitian lain berjudul “Human Capital Accumulation and Disasters: Evidence from Pakistan Earthquake of 2005” oleh Tahir Andrabi dkk juga mengukur dampak bencana terhadap perkembangan anak, termasuk potensi pengaruhnya terhadap pendapatan ketika dewasa.

    Dengan fokus pada gempa Pakistan tahun 2005, riset tersebut menemukan beberapa efek signifikan pada pelajar, di antaranya:

    • Rata-rata nilai ujian anak-anak terdampak tertinggal 1,5 hingga 2 tahun dibandingkan teman sebaya yang tidak terdampak, meski keluarga mereka telah menerima kompensasi finansial besar sehingga kondisi orang dewasa serta infrastruktur masyarakat pulih sepenuhnya.
    • Penutupan sekolah hanya berkontribusi sekitar 10% dari penurunan nilai tersebut. Sebagian besar ketertinggalan terjadi setelah siswa kembali bersekolah, diduga karena mereka kesulitan mengejar kurikulum yang sempat tertinggal.
    • Para peneliti memperkirakan bahwa jika defisit akademik ini terbawa hingga usia dewasa, kelompok terdampak dapat mengalami penurunan pendapatan hingga 15% setiap tahun sepanjang hidup mereka.

    Serangkaian penelitian tersebut menunjukkan bahwa bencana memberikan dampak besar, baik jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap dunia pendidikan. Efeknya tidak hanya berupa gangguan fisik pada bangunan sekolah, tetapi juga memengaruhi perkembangan akademik, kondisi psikologis, hingga masa depan ekonomi siswa. Temuan-temuan ini menegaskan pentingnya strategi pemulihan pendidikan dan dukungan kesehatan mental yang berkelanjutan setelah bencana terjadi.

    Sumber : detik.com

    Share to

    Related News

    HARI IBU: ROMANTISISASI DOMESTIK DAN PERLAWANAN PEREMPUAN

    HARI IBU: ROMANTISISASI DOMESTIK DAN PER...

    by Dec 25 2025

    Jumlah pengunjung : 67 By. Nur Kholik Fenomena tahunan peringatan Hari Ibu di Indonesia kerap mengal...

    Waspada Scam Deepfake: Suara & Wajah...

    by Dec 09 2025

    Jumlah pengunjung : 113 Penipuan digital memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar pesan teks atau akun...

    Hobi Makan Mi Instan? Simak Fakta Mengej...

    by Dec 07 2025

    Jumlah pengunjung : 106 Mi instan sering menjadi solusi cepat saat lapar karena murah dan praktis. N...

    Bukan Prestasi Olahraga, Ternyata Indone...

    by Dec 05 2025

    Jumlah pengunjung : 119 Indonesia baru saja menorehkan rekor baru di kancah global. Bukan di bidang ...

    Riset MIT: AI Sanggup Tangani Beban Kerj...

    by Dec 05 2025

    Jumlah pengunjung : 85 Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Massachusetts Institute of Technology ...

    Indonesia Peringkat Kedua Dunia Kehilang...

    by Dec 05 2025

    Jumlah pengunjung : 131 Keberadaan hutan sebagai ekosistem kompleks yang menaungi ragam vegetasi dan...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
    back to top