Sharwo • Dec 09 2025 • 116 Dilihat

Penipuan digital memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar pesan teks atau akun palsu, pelaku kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meniru suara dan wajah seseorang. Teknologi deepfake membuat rekaman audio atau video tampak sangat meyakinkan, sehingga korban merasa berinteraksi dengan orang yang benar-benar dikenalnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, pakar keamanan siber menilai tren ini bukan hanya ancaman finansial, tetapi juga ancaman serius terhadap kepercayaan publik dan integritas komunikasi digital. Teknologi yang seharusnya membantu kehidupan sehari-hari justru disalahgunakan untuk mengeksploitasi empati dan rasa percaya masyarakat.
Teknologi deepfake mempelajari ratusan hingga ribuan data suara dan gambar seseorang, kemudian meregenerasinya dengan akurasi sangat tinggi. Hasilnya, video palsu dapat menampilkan seseorang sedang berbicara atau memberikan instruksi, sementara audio tiruan terdengar identik dengan suara asli.
Menurut laporan Tekno Kompas, teknologi ini menggunakan algoritma generatif seperti GAN yang mampu memproses citra dan gerakan secara alami, sehingga sulit dibedakan dari rekaman asli.
(Sumber: Tekno Kompas)
Ketua MAFINDO, Septiaji Eko Nugroho, menegaskan bahwa konten deepfake tidak terbatas pada ranah hiburan. Ia kerap dimanfaatkan untuk penipuan digital dan penggiringan opini publik, terutama berkaitan dengan isu politik.
“Untuk isu politik juga ada, tapi deepfake paling banyak digunakan untuk penipuan digital. Kalau ada konten hoaks bentuknya video dengan tema penipuan digital di tahun 2025, itu mayoritas adalah deepfake,” ungkapnya.
Dampaknya sangat nyata. Data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat kerugian sektor keuangan mencapai Rp 700 miliar dalam tiga bulan, antara November 2024 hingga Februari 2025, akibat penipuan bermuatan deepfake.
Publik Indonesia sempat dihebohkan oleh video deepfake yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto menawarkan bantuan dana Rp 50 juta dengan syarat pembayaran administrasi.
Polanya kemudian menyebar ke figur publik lainnya. Menurut laporan Kompas, pelaku mencatut wajah serta suara pejabat, antara lain:
Brigjen Himawan Bayu Aji, Dirtipidsiber Bareskrim, menyatakan:
“(Pelaku) memanfaatkan foto dan suara seperti Bapak Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ibu Sri Mulyani, dan pejabat negara lainnya, seolah-olah menyampaikan bahwa pemerintah menawarkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.”
(Sumber: Kompas)
Narasinya selalu sama: bantuan uang puluhan juta, namun harus membayar “biaya administrasi” terlebih dahulu. Kasus ini memperlihatkan bagaimana deepfake memanfaatkan rasa percaya masyarakat terhadap figur publik.
Modus kejahatan deepfake mengikuti pola berulang, di antaranya:
Dengan tampilan yang tampak autentik, korban mudah terjebak.
Dampak utama fenomena ini bukan sekadar kerugian finansial. Yang dipertaruhkan jauh lebih besar: kepercayaan terhadap informasi digital.
Deepfake mampu meniru ekspresi wajah, suara, hingga latar visual secara meyakinkan. Masyarakat semakin kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang rekayasa. Fenomena ini menunjukkan degradasi etika penggunaan teknologi, di mana kecanggihan AI justru dimanfaatkan untuk tindakan merugikan.
Pemerintah meminta publik tidak mudah percaya pada video yang menampilkan tokoh negara menawarkan hadiah atau bantuan dana. Kominfo mencatat pola penipuan ini semakin marak dan sering memanfaatkan wajah serta suara pejabat untuk membuat konten tampak resmi.
Wamenkomdik Nezar Patria mengingatkan:
“Jika ada tawaran uang dari pejabat negara lewat video, jangan langsung percaya. Lakukan verifikasi dan cek sumber informasinya.”
Masyarakat diminta:
Edukasi publik menjadi langkah penting agar korban tidak terus bertambah.
Lonjakan konten deepfake menunjukkan transformasi penipuan digital di Indonesia. Teknologi yang mampu memalsukan wajah dan suara membuat aksi scam semakin sulit dideteksi.
Untuk menghadapinya, diperlukan langkah bersama untuk meningkatkan literasi digital, memperkuat regulasi, mengembangkan teknologi pendeteksi, serta mempererat kerja sama antara pemerintah, platform, dan masyarakat.
Taruhannya bukan hanya kerugian finansial, tetapi kepercayaan publik terhadap informasi dan institusi di ruang digital.
Penulis: Sarwo
Jumlah pengunjung : 67 By. Nur Kholik Fenomena tahunan peringatan Hari Ibu di Indonesia kerap mengal...
Jumlah pengunjung : 109 Bencana alam membawa beragam kerugian bagi masyarakat di wilayah terdampak. ...
Jumlah pengunjung : 106 Mi instan sering menjadi solusi cepat saat lapar karena murah dan praktis. N...
Jumlah pengunjung : 119 Indonesia baru saja menorehkan rekor baru di kancah global. Bukan di bidang ...
Jumlah pengunjung : 84 Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Massachusetts Institute of Technology ...
Jumlah pengunjung : 131 Keberadaan hutan sebagai ekosistem kompleks yang menaungi ragam vegetasi dan...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.