Nailal • May 09 2026 • 60 Dilihat

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Virus Hanta yang bersumber dari hewan pengerat (tikus). Penyakit zoonosis ini diketahui dapat menular ke manusia melalui lingkungan yang terkontaminasi, terutama di area dengan sanitasi buruk atau ruang tertutup dengan ventilasi terbatas.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa penularan utama virus ini terjadi melalui udara (aerosol) yang membawa partikel kotoran tikus yang telah mengering.
“Hantavirus pulmonary syndrome ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urine yang mengering, feses tikus, ataupun air liur tikus yang sakit,” kata Dicky dikutip dari Antara, Rabu (6/5/2026).
Selain melalui pernapasan, virus ini juga dapat menginfeksi manusia jika terjadi kontak fisik langsung dengan permukaan yang tercemar urine atau kotoran tikus. Namun, Dicky menekankan bahwa penularan antarmanusia sangat jarang terjadi. Hanya strain tertentu, seperti virus Andes, yang dilaporkan memiliki kemampuan menular secara terbatas melalui kontak dekat.
Gejala awal infeksi virus hanta sering kali menyerupai infeksi umum lainnya, seperti demam, nyeri otot, dan tubuh lemas. Namun, masyarakat diminta tidak meremehkan kondisi ini karena virus tersebut dapat memicu kebocoran cairan pada paru-paru di fase berat.
Dicky memperingatkan bahwa tingkat kematian penyakit ini tergolong tinggi jika tidak segera ditangani.
“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum ditemukan terapi antivirus spesifik untuk mengobati penyakit akibat virus hanta. Penanganan medis yang diberikan umumnya bersifat terapi suportif, seperti penggunaan ventilator untuk pemenuhan oksigen dan pengaturan cairan tubuh secara ketat. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah pasien jatuh ke kondisi gagal napas.
Terkait potensi risiko secara luas, Dicky menilai peluang virus hanta menjadi pandemi global sangat kecil karena keterbatasan penularan antarmanusia. Meski demikian, langkah preventif tetap harus dilakukan oleh individu dan komunitas.
Sumber: Kompas
Jumlah pengunjung : 11 Pembatasan akses gim bagi anak dinilai memerlukan keterlibatan aktif orang tu...
Jumlah pengunjung : 41 Sorotan Kompetensi Pimpinan BGN Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sehar...
Jumlah pengunjung : 66 JAKARTA—Menteri Pertanian menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pe...
Jumlah pengunjung : 92 BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul menerima tambahan satu unit bus sekolah ...
Jumlah pengunjung : 89 JAKARTA—Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti ...
Jumlah pengunjung : 105 JOGJA—Pemerintah Kota Yogyakarta menilai penerapan rekayasa lalu lintas di...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.