Wanda Latifah • Dec 02 2025 • 119 Dilihat

Upaya meningkatkan jangkauan pemantauan bencana di Kabupaten Bantul kembali diperkuat. BPBD Bantul mengusulkan penambahan perangkat early warning system (EWS) di wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap ancaman banjir dan longsor.
Inisiatif ini dinilai krusial untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat jelang puncak musim penghujan. Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, menyampaikan bahwa terdapat 12 titik baru yang diajukan untuk pemasangan sistem peringatan dini. Usulan tersebut kini memasuki tahap komunikasi lanjutan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
“Semoga ada respons cepat. Minimal, pada 2026 sudah ada alokasi anggaran yang turun,” ujarnya pada Senin (1/12/2025).
Lokasi yang diusulkan mencakup beberapa kalurahan di zona rawan, yakni Srimartani di Kapanewon Piyungan; Wonolelo dan Pleret di Kapanewon Pleret; Muntuk di Kapanewon Dlingo; serta Sendangsari dan Guwosari di Kapanewon Pajangan.
Selain itu, sejumlah titik di Kapanewon Imogiri juga masuk dalam daftar pengajuan, seperti Selopamioro, Jembatan Kedungjati Selopamioro, Lembah Rubuh Selopamioro, Jembatan Timur Pasar Imogiri, dan Padukuhan Pengkol Sriharjo. Jembatan Kiringan Canden di Kapanewon Jetis turut menjadi bagian dari usulan tersebut.
Mujahid menegaskan bahwa seluruh titik tersebut akan menjalani survei lanjutan untuk memastikan kelayakan pemasangan perangkat.
“Nanti akan ada pendalaman lokasi untuk menentukan titik final pemasangan. Jadi 12 titik ini baru berdasarkan kajian awal terkait potensi banjir dan longsor,” jelasnya.
Saat ini, Bantul memiliki enam perangkat EWS yang sudah berfungsi. Perangkat tersebut terpasang di Srimulyo (Piyungan), Wonolelo (Pleret), Selopamioro, dua unit di Wukirsari (Imogiri), serta satu di Munthuk (Dlingo).
Seiring dengan rencana perluasan EWS, BPBD Bantul juga terus melakukan pemeriksaan rutin terhadap alat yang sudah terpasang. Staf Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Bantul, Nur Eta, melaporkan bahwa salah satu EWS di Nglingseng, Kalurahan Muntuk, ditemukan mengalami kerusakan.
“Saat ini kami sudah menyampaikan laporan ke pimpinan dan masih menunggu arahan untuk langkah selanjutnya,” ujarnya.
BPBD akan melanjutkan pengecekan ke titik lainnya. Sementara itu, sejak awal November Pemkab Bantul telah menetapkan status siaga bencana melalui instruksi Bupati sebagai bentuk antisipasi menghadapi potensi longsor, banjir, dan angin kencang.
Sumber : Harian Jogja
Penulis: Putri
Jumlah pengunjung : 110 Pembatasan akses gim bagi anak dinilai memerlukan keterlibatan aktif orang t...
Jumlah pengunjung : 127 Sorotan Kompetensi Pimpinan BGN Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seha...
Jumlah pengunjung : 202 Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Virus Han...
Jumlah pengunjung : 130 JAKARTA—Menteri Pertanian menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung p...
Jumlah pengunjung : 211 BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul menerima tambahan satu unit bus sekolah...
Jumlah pengunjung : 162 JAKARTA—Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.