Categories
  • Beasiswa S1
  • Beasiswa S2
  • Beasiswa S3
  • Berita Provinsi
  • Berita Pusat
  • Event Edu
  • Info Beasiswa
  • Info Pendidikan
  • LLDIKTIV
  • Pameran DIY
  • Pengabmas
  • Prestasi PT
  • Rubrik Ilmiah
  • Seminar PT DIY
  • Tokoh
  • Uncategorized
  • Wisata edu
  • Workshop DIY
  • Leukemia, Jenis Kanker Anak Paling Umum di Indonesia, IDAI Ungkap Faktor Pemicunya

    Jun 11 2025229 Dilihat

    Kisah Devin Nur Faeyza yang viral karena berjuang melawan leukemia di usia yang masih belia, yakni 6 tahun, menyentuh banyak hati. Devin bukan satu-satunya anak yang harus menghadapi kenyataan pahit ini. Faktanya, kasus kanker anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Global Burden of Cancer (Globocan) dari 2008 hingga 2022, terjadi peningkatan angka kejadian kanker anak hingga 40 persen.

    Jenis Kanker Anak yang Paling Sering Terjadi di Indonesia

    Dari berbagai jenis kanker yang menyerang anak-anak, leukemia atau kanker darah menjadi yang paling umum. Berikut adalah daftar jenis kanker anak dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia berdasarkan laporan Globocan 2022:

    • Leukemia Limfoblastik: 2.963 kasus
    • Leukemia Myeloblastik Akut: 694 kasus
    • Retinoblastoma (kanker mata): 523 kasus
    • Osteosarkoma (kanker tulang): 427 kasus
    • Limfoma Maligna Non-Hodgkin (kecuali Burkitt Limfoma): 337 kasus
    • Nefroblastoma dan Tumor Ginjal Non-Epitel: 310 kasus
    • Neuroblastoma Ganglioneuroblastoma: 274 kasus
    • Rabdomiosarkoma (kanker jaringan lunak): 272 kasus
    • Leukemia Myeloblastik Kronis: 243 kasus
    • Tumor Ganas Sel Germinal Gonad: 233 kasus

    Apa Penyebab Kanker Anak?

    Hingga saat ini, penyebab utama kanker pada anak belum bisa dipastikan sepenuhnya. Namun, ada beberapa faktor risiko yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan risiko kanker pada anak. Salah satu faktor yang mulai banyak mendapat perhatian adalah obesitas.

    Menurut Prof. Dr. dr. I Dewa Gede Ugrasena, SpA (K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak dari Universitas Airlangga, obesitas dapat menyebabkan inflamasi kronis atau peradangan yang berkelanjutan dalam tubuh anak. Kondisi ini berpotensi memicu pertumbuhan sel-sel abnormal yang menjadi cikal bakal kanker.

    “Obesitas diidentifikasi sebagai faktor risiko kanker karena kelebihan jaringan lemak dalam tubuh bisa menyebabkan peradangan kronis. Peradangan ini kemudian memicu pertumbuhan sel yang tidak terkendali, yang dapat berujung pada kanker,” jelas Prof. Ugra dalam sebuah diskusi daring pada Selasa (4/2/2025).

    Selain itu, anak yang mengalami obesitas cenderung memiliki gangguan keseimbangan hormon dan metabolisme. Kondisi ini sering kali disertai dengan peningkatan kadar insulin, yang jika tidak terkontrol, dapat memicu mutasi sel yang menyebabkan pertumbuhan kanker.

    Meskipun demikian, Prof. Ugra menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan langsung antara obesitas dan kanker pada anak.

    Pentingnya Studi dan Registrasi Nasional

    Ketua UKK Hemato Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Eddy Supriyadi, SpA (K), PhD, juga menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut terkait hubungan obesitas dan kanker anak. Ia menekankan perlunya registrasi nasional untuk mengetahui apakah obesitas memiliki pengaruh signifikan terhadap angka kejadian kanker pada anak di Indonesia.

    Ia juga menjelaskan bahwa kanker pada anak berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Jika pada orang dewasa kanker lebih banyak dipengaruhi oleh pola makan dan faktor lingkungan, pada anak-anak lebih banyak disebabkan oleh faktor genetik serta terjadi secara mendadak.

    Kesimpulan

    Leukemia menjadi jenis kanker paling umum yang menyerang anak-anak di Indonesia. Meskipun penyebab utamanya belum diketahui secara pasti, obesitas mulai dianggap sebagai salah satu faktor risiko yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menjaga pola makan dan berat badan anak agar tetap sehat guna mengurangi kemungkinan risiko terkena kanker.

    Dengan meningkatnya angka kejadian kanker anak, langkah pencegahan melalui pola hidup sehat dan penelitian lebih lanjut sangat diperlukan. Pemerintah dan institusi kesehatan diharapkan bisa lebih aktif dalam menggalakkan program deteksi dini dan edukasi tentang kanker pada anak, sehingga angka kejadian bisa ditekan di masa depan.

    Penulis : Allif

    Referensi : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7763892/leukemia-jadi-jenis-kanker-terbanyak-pada-anak-ri-idai-bicara-pemicunya 

    Referensi Gambar : https://www.pexels.com/id-id/foto/merah-warna-darah-tabung-4047146/ 

    Share to

    Related News

    Wamen Stella Christie mendorong talenta digital Indonesia memiliki kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan AI.

    Wamen Stella Christie Tekankan Pentingny...

    by May 12 2026

    Jumlah pengunjung : 97 Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, meneg...

    Dominasi anak muda dalam penggunaan fintech mendorong penguatan edukasi literasi keuangan digital secara berkelanjutan.

    Penguatan Literasi Keuangan di Tengah Do...

    by May 08 2026

    Jumlah pengunjung : 127 Penggunaan layanan teknologi finansial atau fintech di kalangan anak muda te...

    Gelar GIFTS 2025, UGM Jembatani Kolabora...

    by Dec 06 2025

    Jumlah pengunjung : 112 Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan perhelatan akbar Glob...

    Educonesia Expo 2025: The Largest Exhibi...

    by Nov 29 2025

    Jumlah pengunjung : 132 Menjelang akhir tahun 2025, dunia pendidikan Indonesia akan dimeriahkan oleh...

    Pesta Buku Jogja 2025 Digelar di GIK UGM...

    by Nov 29 2025

    Jumlah pengunjung : 176 YOGYAKARTA – Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah M...

    Kapal Api Goes to Campus hadir di UGM le...

    by Nov 27 2025

    Jumlah pengunjung : 116 YOGYAKARTA – Roadshow edukasi Seduh Inspirasi: Kapal Api Goes to Campus ak...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
    back to top