Fajar A • Oct 06 2025 • 249 Dilihat

Warta Pendidikan Jogja — Kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa di Sleman, DIY dan Lebong, Bengkulu, akibat konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), memicu keprihatinan kalangan akademisi Universitas Gadjah Mada. Insiden yang terjadi berdekatan ini dinilai sebagai indikator kegagalan sistemik dalam pengelolaan makanan di lingkungan sekolah.
Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) UGM, menegaskan bahwa temuan laboratorium menunjukkan kontaminasi oleh tiga jenis bakteri berbahaya—E. coli, Clostridium sp., dan Staphylococcus—pada sampel makanan dan muntahan siswa. Gejala yang dialami korban meliputi mual, muntah, dan diare, bahkan beberapa harus dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Menurut Sri Raharjo, akar persoalan terletak pada lemahnya pengawasan dalam proses penyiapan dan distribusi makanan. Ia menyoroti pentingnya kontrol terhadap waktu konsumsi, karena makanan yang telah dimasak seharusnya tidak disimpan lebih dari empat jam untuk mencegah pertumbuhan mikroba. Selain itu, kualitas air yang digunakan dalam proses memasak harus bebas dari kontaminasi.
Ia juga menekankan bahwa keterbatasan tenaga kerja dan minimnya pemahaman penjamah makanan terhadap prinsip Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) turut memperbesar risiko. “Koordinasi lintas sektor masih lemah. Diperlukan evaluasi menyeluruh dan perbaikan sistem agar program MBG tidak berulang menjadi sumber masalah,” ujarnya.
Sebagai solusi, Sri Raharjo mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pengawasan melalui audit berkala, pelatihan intensif bagi penjamah makanan, serta pemberian sanksi tegas terhadap pelanggaran, termasuk pencabutan izin operasional. Di sisi lain, penyedia katering perlu menerapkan metode batch cooking, memastikan penggunaan air bersih, dan melakukan uji laboratorium mandiri secara rutin.
Tak kalah penting, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga keamanan pangan. Siswa perlu dibiasakan mencuci tangan sebelum makan dan segera melaporkan gejala keracunan. Orang tua juga diimbau untuk memantau kualitas makanan dan menjalin komunikasi dengan pihak sekolah.
“Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, penyedia makanan, dan masyarakat, program MBG bisa menjadi solusi gizi yang aman dan berkelanjutan bagi generasi muda,” pungkasnya.
Author: Allif
Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/kasus-keracunan-mbg-di-sleman-dan-lebong-pakar-ugm-sebut-minimnya-pengawasan-proses-penyiapan-makanan-higienis/
Jumlah pengunjung : 204 Kejadian mobil yang tiba-tiba mati mesin atau “mogok” tepat di t...
Jumlah pengunjung : 210 Transisi peradaban menuju Era Digital 5.0 menghadirkan sebuah paradoks besar...
Jumlah pengunjung : 153 Kita sering kali menganggap Kecerdasan Buatan (AI) sebagai hakim yang paling...
Jumlah pengunjung : 147 Penipuan digital memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar pesan teks atau akun...
Jumlah pengunjung : 118 Bencana alam membawa beragam kerugian bagi masyarakat di wilayah terdampak. ...
Jumlah pengunjung : 120 Mi instan sering menjadi solusi cepat saat lapar karena murah dan praktis. N...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.