Fajar A • Aug 24 2026 • 5 Dilihat

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia perlu diarahkan dari pola tanggap darurat menuju sistem penjagaan hutan yang berjalan secara berkelanjutan. Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Priyono Suryanto, mengusulkan tiga strategi transformasi untuk memperkuat pencegahan karhutla, yaitu membangun ekosistem gotong royong untuk menjaga hutan, menjadikan pengalaman penanganan kebakaran sebagai memori strategis nasional, serta mengubah pola ketahanan reaktif menjadi ketahanan antisipatif.
Menurut Priyono, Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan kelembagaan yang cukup kuat dalam menangani karhutla. Ketika kebakaran terjadi, berbagai pihak dapat bergerak bersama untuk melakukan pemadaman dan penanganan keadaan darurat.
Namun, pola tersebut dinilai masih lebih banyak muncul ketika krisis sudah terjadi. Padahal, semangat gotong royong juga perlu dipertahankan ketika kondisi hutan sedang normal agar berbagai pihak dapat melakukan pencegahan sejak dini.
“Ketangguhan tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan kebakaran besar. Ketangguhan sendiri berarti kemampuan membaca risiko lebih dini, mengurangi kerentanan, menjaga fungsi ekosistem, dan bertindak sebelum ancaman berubah jadi bencana,” kata Priyono pada Sabtu (22/8/2026).
Priyono menilai program pencegahan karhutla sebenarnya sudah tersedia. Tantangannya adalah menjaga agar program tersebut tetap berjalan secara konsisten, terintegrasi, dan tidak berhenti setelah situasi darurat berakhir.
Transformasi pertama yang diusulkan adalah mengubah ekosistem gotong royong yang selama ini muncul ketika kebakaran terjadi menjadi ekosistem gotong royong untuk menjaga hutan.
Menurut Priyono, seluruh pihak yang biasanya bergerak ketika terjadi kebakaran perlu tetap terhubung saat tidak ada kebakaran. Pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga terkait, serta berbagai pemangku kepentingan dapat menjalankan fungsi masing-masing dalam sistem pencegahan.
“Kekuatan yang biasanya muncul ketika adanya kebakaran harus tetap hidup ketika hutan sedang tidak terbakar. Disitulah pergeseran penting dari gotong royong krisis menjadi gotong-royong penjagaan hutan,” tuturnya.
Dengan sistem tersebut, pencegahan tidak hanya dilakukan ketika titik api mulai muncul, tetapi menjadi aktivitas yang berlangsung secara berkelanjutan.
Strategi kedua berkaitan dengan pengelolaan pengalaman dari berbagai kejadian karhutla. Priyono mendorong agar setiap peristiwa kebakaran tidak hanya berakhir sebagai catatan kejadian, tetapi dapat digunakan untuk memperbaiki sistem penanganan pada masa mendatang.
Pengalaman di lapangan dapat menjadi sumber pengetahuan untuk memahami pola risiko, mengetahui kelemahan penanganan, dan menentukan langkah pencegahan yang lebih efektif.
Dengan menjadikan pengalaman tersebut sebagai memori strategis nasional, Indonesia dapat terus meningkatkan kapasitas dalam menghadapi ancaman karhutla.
“Karena itu, transformasi paling penting bukan memperbesar mobilisasi ketika api sudah menyala, tetapi mengubah gotong royong menjadi ekosistem penjagaan hutan yang permanen,” tuturnya.
Strategi ketiga adalah mengubah ketahanan yang selama ini bersifat reaktif menjadi ketahanan antisipatif. Artinya, kemampuan menghadapi karhutla tidak hanya diukur dari seberapa cepat petugas memadamkan api, tetapi juga dari kemampuan membaca potensi risiko sebelum kebakaran terjadi.
Pendekatan antisipatif dapat dilakukan dengan memperkuat pemantauan kondisi hutan, mengidentifikasi wilayah rawan, mengurangi kerentanan ekosistem, serta memastikan berbagai pihak dapat mengambil tindakan sebelum risiko berkembang menjadi bencana.
Priyono menilai pendekatan tersebut penting karena karhutla tidak cukup ditangani hanya dengan meningkatkan kemampuan pemadaman. Upaya menjaga fungsi ekosistem dan mengurangi risiko sejak awal juga harus menjadi bagian utama dari sistem pengelolaan hutan.
Tiga strategi yang diusulkan Priyono pada dasarnya menempatkan pencegahan sebagai bagian utama dalam pengelolaan karhutla. Gotong royong perlu berlangsung secara permanen, pengalaman harus diubah menjadi pengetahuan strategis, dan sistem penanganan harus mampu mengantisipasi risiko sebelum kebakaran berkembang.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga hutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada respons darurat ketika kebakaran sudah terjadi.
Sumber: HarianJogja
Jumlah pengunjung : 5 Pemerintah membuka jalur pengadaan khusus Pegawai Negeri Sipil (PNS) bagi dose...
Jumlah pengunjung : 72 DPR RI berkomitmen meningkatkan kesejahteraan guru setelah pemerintah dan DPR...
Jumlah pengunjung : 81 Pemerintah dan DPR RI menyepakati penataan status kepegawaian guru Pegawai Pe...
Jumlah pengunjung : 32 Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yulia...
Jumlah pengunjung : 83 Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp820,9 triliun dalam R...
Jumlah pengunjung : 86 Pemerintah menargetkan 50 hingga 100 unit Sekolah Rakyat mulai aktif beropera...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.