Fajar A • May 22 2026 • 14 Dilihat

Momentum peringatan 28 tahun Reformasi dimaknai dengan cara berbeda oleh sejumlah aktivis mahasiswa melalui peluncuran buku sejarah kolektif berjudul Kampus Pergerakan: Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986–2026. Buku tersebut resmi diperkenalkan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/5/2026).
Kehadiran buku ini menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan panjang gerakan mahasiswa yang memiliki peran penting dalam perubahan politik Indonesia, termasuk runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998. Isi buku disusun berdasarkan sudut pandang langsung para pelaku sejarah, yakni aktivis mahasiswa lintas generasi Universitas Janabadra.
Salah satu inisiator buku, Heroe Waskito, menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa lahir melalui proses panjang yang penuh dinamika. “Gerakan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Ada kegelisahan panjang, ada tekanan, ada penangkapan, dan dinamika yang terus bergerak di berbagai kampus di Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa proses penulisan dilakukan secara kolektif dengan metode verifikasi yang cukup ketat. Kesaksian para aktivis dihimpun melalui berbagai saluran komunikasi, lalu dicocokkan dengan dokumen internal gerakan, arsip media massa, hingga laporan lembaga nasional dan internasional agar data yang disajikan tetap akurat.
Tidak hanya membahas aksi demonstrasi mahasiswa, buku setebal lebih dari 300 halaman tersebut juga menggambarkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai advokasi masyarakat. Beberapa kasus yang diangkat di antaranya persoalan Kedung Ombo, konflik di Cilacap, hingga pendampingan warga di berbagai daerah di Yogyakarta.
Aktivis 1998 sekaligus advokat, Eko Prastowo, menyebut buku ini ditulis dengan pendekatan naratif historis agar mudah dipahami pembaca lintas generasi. Menurutnya, buku tersebut tidak hanya memotret aksi mahasiswa, tetapi juga kehidupan sehari-hari aktivis, relasi dengan masyarakat, hingga cerita-cerita yang terjadi di balik perjuangan Reformasi.
Dalam peluncuran buku tersebut, Heroe Waskito juga menyoroti persoalan penegakan hukum yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bangsa hingga saat ini. “Dua puluh delapan tahun Reformasi, penegakan hukum harus jadi fokus utama. Ini akar masalah yang belum selesai,” tegasnya.
Buku Kampus Pergerakan diterbitkan oleh komunitas alumni Universitas Janabadra yang tergabung dalam Janabadra Club dengan melibatkan hampir 100 kontributor dari berbagai angkatan. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi generasi muda untuk memahami sejarah gerakan mahasiswa Indonesia secara lebih utuh.
Baca juga: Akademisi UMY Soroti Pentingnya Kesiapan Pemerintah dalam Kebijakan Penghapusan Honorer
Sumber: https://pendidikan.harianjogja.com/r-1256961/buku-gerakan-mahasiswa-terbit-di-hari-reformasi-soroti-masalah-hukum
Jumlah pengunjung : 16 Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran ...
Jumlah pengunjung : 14 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong pengembangan pe...
Jumlah pengunjung : 25 Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menilai kebijakan penghapu...
Jumlah pengunjung : 19 Pemerintah Indonesia dan Turki terus memperkuat kerja sama di bidang pendidik...
Jumlah pengunjung : 23 Penerbitan surat edaran terkait guru non-ASN memberikan kepastian baru bagi p...
Jumlah pengunjung : 65 Pemerintah berencana menerapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib d...

Warta pendidikan jogja - Portal berita positif yang menyajikan informasi terkini tentang fakta dunia pendidikan dan edukasi
Follow Our Twitter

No comments yet.